INFO SAWIT, JAKATA - Guru besar IPB dan Ketua Himpunan Gambut Indonesia Supiandi Sabiham menilai, untuk beberapa institusi perlu mengubah paradigma berpikir dan lebih banyak belajar dari institusi bergengsi global seperti Enviromental Protection Agency (EPA) dari Amerika Serikat dan Universitas Göttingen, Jerman. Mengenai pengelolaan gambut untuk kelapa sawit di Indonesia.
EPA adalah sebuah lembaga Pemerintah Amerika Serikat yang bertugas melestarikan lingkungan hidup dan kegiatan kerjanya mirip Kementerian Lingkungan Hidup di Indonesia.Menurut Supiandi, persoalan kebakaran gambut di Indonesia lebih disebabkan masalah sosial.
“EPA justru melakukan kajian yang mendukung pengembangan sawit di Indonesia sebagai minyak nabati unggulan. Dukungan riset untuk pengembangan sawit nasional juga dilakukan Universitas Göttingen, Jerman,” kata Supiandi seperti dikutip Beritaterkini.id.
Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Nurwadjedi menambahkan 90% penyebab kebakaran hutan gambut dilakukan masyarakat.
Pembakaran lahan oleh masyarakat merupakan masalah sosial. Upaya terpenting untuk penanggulangan karhutla adalah memetakan desa-desa di sekitar kawasan hutan.
“Untuk itu, pemerintah harus mempunyai program pencegahan kebakaran di tingkat desa yang mampu membantu penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi ditengah masyarakat,” kata Nurwadjedi.(T2)










