INFO SAWIT, KAMPAR - Masih umur 7 tahun kala itu, Misdan diajak untuk pertama kalinya meginjakan kaki di tanah Sumatera, tepatnya di Labuhan Batu, Sumatera Utara, tahun 1968 silam. Setelah 48 tahun berada di tanah perantauan, Misdan asal Cilacap itu kini telah menjadi petani kelapa sawit yang sukses.
Bahkan dari kelapa sawit, dirinya bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Misalnya saja, salah satu anak Misdan telah menempuh jalur Strata I di Pekanbaru, Riau, dan saat ini sudah masuk ke Semester 6.
Tutur Misdan (52), kini dirinya menggantungkan hidup dari berkebun kelapa sawit. “Pendapatan saya dari sawit sekarang sekitar 4 hingga 6 juta per hektare,” cerita Misdan kepada InfoSAWIT, saat bertandang di kantor KUD – nya belum lama ini di Desa Kijang Makmur.
Tidak hanya pendapatan yang lumayan tinggi dari berkebun sawit, gara-gara sawit, Misdan pun bahkan sudah menginjakan kaki ke benua biru Eropa, tepatnya Jerman. Tentu saja ke Eropa untuk memberikan informasi mengenai gambaran perkebunan kelapa sawit yang sejatinya juga banyak dikelola oleh masyarakat, seperti dirinya. Bakan gara-gara sawit, Misdan pun berkesempatan bertatap muka secara langsung dengan Presiden RI ke-6, Susilo Bambag Yudhoyono.
Nah untuk menambah penghasilan, kini salah satu lahan yang Misdan miliki, ikut pula dalam skim inovasi pembiayaan peremajaan yang berlokasi di Desa Kijang Makmur, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau. Proses peremajaan itu sudah dilakukan sejak Mei 2015 silam, dan pada bulan berikutnya (Juni) kebun sawit milik Misdan yang dikelola perusahaan langsung ditanam sawit. “Bibit sawitnya dari Dami Mas,” kata dia.
Misdan mengakui, jika tidak difasilitasi perusahaan lewat skim inovasi pembiayaan peremajaan, dirinya tidak bakal sanggup melakukan peremajaan kebun sawitnya. Sebelumnya dia sudah mengajukan pembiayaan peremajaan sawit ke pemerintah tapi belum ada kabarnya hingga saat ini. “Gelap juga akhirnya,” kenang Misdan.
Pada dasarmya, tutur Misdan, masyarakat banyak ingin meremajakan kebun sawit mereka, namun mereka tidak mau pengurusan yang terlalu berbelit-belit. “Masyarakat tidak mau berbelit-belit, jadi biar cepat selesai,” tandas Misdan. (T2)










