INFO SAWIT, KAMPAR -Siapa bilang petani sawit itu berasal dari luar daerah daerah Sumatera, ternyata ada juga petani sawit yang berasal dari masyarakatan tempatan atau asli suku melayu Riau, seperti Sunardi (38) asal Desa Bandar Padang, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.
Tutur Sunardi, ketertarikannya untuk bergabung dengan skim inovasi pembiayaan peremajaan lantaran ingin merasakan bermitra dengan Perkebunan Sinar Mas. Apalagi hasil produksi tanaman kebun sawit miliknya yang dikelola secara swadaya, kalah jauh bila dibandingkan dengan kebun sawit milik plasma mitra perusahaan. “Kebun sawit swadaya dengan mitra jauh nilai ekonomisnya, kami harap dengan bermitra bisa meningkatkan nilai ekonomisnya,” tutur Sunardi kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Desa Kijang Makmur.
Sebelum bergabung dengan skim inovasi pembiayaan peremajaan, Sunardi bercerita, dirinya dan masyarakat lainnya membuka kebun sawit tanun 2000 an silam menggunakan bibit yang diperjual-belikan di daerahnya, alias bibit yang tidak bersertifikat. Kebanyakan masyarakat kepincut bibit itu lantaran harga nya jauh lebih murah dimana diperdagangkan sekitar Rp 10-20 ribu per bibit, untuk bibit yang sudah siap tanam. “Namun setelah 10 tahun, kebun sawitnya tidak memberikan hasil yang baik,” tutur Sunardi.
Dengan adanya skim inovasi pembiayaan peremajaan ini, harapan Sunardi, bisa menjadi jawaban bagi masyarakat suku melayu yang ingin kebun sawitnya bisa menghasilkan produktivitas tinggi, tidak lagi sekadar menjadi penonton yang justru memunculkan kecemburuan sosial. “Sehingga kesenjangan juga bisa diminimalisir,” tandas Sunardi. (T2)










