INFO SAWIT, MUARA PANTUN - Kegalauan Arbani (55) bukannya tanpa alasan, sebagai masyarakat asli Kutai, kemiskinan menjadi masalah besar di wilayahnya. Padahal sumberdaya lahan yang dimiliki masyarakat cukup luas.
Akhirnya Arbani pun memutuskan untuk berkebun sawit secara swadaya untuk mendongkrak pendapatan keluarga, tentu saja setelah berkonsultasi dan melihat petani plasma di wilayahnya. “Masa masyarakat pendatang bisa maju, sementara kami masyarakat lokal tidak bisa,” kata Arbani.
Lebih lanjut tutur Arbani, sebelum adanya perkebunan sawit mata pecaharian masyarakat masih serabutan, ada pula yang menjadi karyawan perusahaan kayu (loging) atau ladang berpindah.
Tekad Arbani yang bulat telah memberikan hasil, kebun sawit yang dibangunnya secara swadaya telah membeikan hasil yang baik untuk perekonomian keluarga. Ternyata keberanian Arbani membangun sawit juga langsung diikuti masyarakat lainnya. “Setiap hari banyak masyarakat yang tanya saya tentang cara bangun kebun sawit, sekaligus cara memperoleh bibit sawit,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.
Kendati telah mendapat pengalaman berkebun sawit faktanya, Arbani tetap kesulitan untuk mendapatkan bibit sawit unggul untuk di tanam pada lahan lainnya yang sudah siap diolah. Termasuk terbatasnya akses untuk mendapat pupuk dan saprodi untuk perawatan kebun.
Maka di tahun 2012 silam, Arbani berinisiatif menggabungkan 5 kelompok tani yang ada di wiliahnya untuk dilebur menjadi Koperasi yang bernama Koperasi Etam Sejahtera. Ini menjadi langkah awal petani swadaya untuk bisa bermitra dengan PT Kresna Duta Agroindo anak usaha PT SMART Tbk. “Akhirnya kami masuk skim inovasi pembiayaan pembinaan bantuan kredit bibit dari tahun 2012 sampai 2015,” katanya.
Saat ini Koperasi Etam Sejahtera telah beranggotakan sekitar 198 petani dengan luas lahan sekitar 589 ha, yang berlokasi di Desa Muara Pantun, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Dengan bertanam kelapa sawit masyarakat sekitar wilayah Desa Muara Pantun pun sudah mulai melonjak perkonomiannya, kata Arbani, sebelumnya masyarakat sulit beli kendaraan bermotor, jauh dibandingkan saat ini yang mana masyarakat rata-rata sudah memiliki kendaraa bermotor. “Sekarang setiap penduduk sudah bisa beli kendaran bermotor,” tandas Arbani. (T2)










