Berita Lintas
sawitbaik

Inovasi Pembiayaan: Untuk Hidup Lebih Baik Lagi



Inovasi Pembiayaan: Untuk Hidup Lebih Baik Lagi

INFO SAWIT, KAMPAR -Lima belas tahun tahun silam, Suhaeri, asal Labuhan Batu, Sumatera Utara, menentukan langkahnya sendiri untuk merantau ke Tapung Hilir. Berbekal pengalaman mengurus kebun sawit keluarganya, pemuda 33 tahun itu pun sepakat berkebun sawit di Desa Kijang Makmur, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar Riau.

Bermodal 5 hektar lahan, Suhaeri pun membangun kebun sawit nya sendiri. Cerita Suhaeri, dulu saat membangun kebun dirinya menggunakan bibit sawit yang ditangkarkan sendiri, dari berondolan sawit dengan perawatan ala kadarnya. “Dulu bibit tidak diketahui asal usulnya, kami juga tidak tahu harus beli bibit sawit dimana,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Desa Kijang Makmur.

Wajar bilamana, saat tanaman sawitnya berumur mencapai 10 tahun tidak juga memberikan hasil yang maksimal. Kata Suhaeri, hasil kebun sawitnya hanya mencapai 1,2 ton TBS/ha/bulan atau sekitar 12 sampai 15 ton TBS/ha/tahun.

Belum lagi, hasil buah sawitnya tidak bisa langsung di jual ke pabrik kelapa sawit, lantaran mesti melewati tengkulak, yang diketahui harganya sangat jauh dibandingkan dengan harga yang telah ditentukan Dinas Perkebunan setempat. “Selisihnya sekitar Rp 300 sampai 400 per kilogram,” tuturnya.

Alasan itu semua yang akhirnya mendorong Suhaeri beserta 33 petani lainnya yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Kita dengan luas lahan sekitar 91,86 ha, memutuskan untuk bergabung dengan skim inovasi pembiayaan peremajaan pada tahun 2014 silam. “Kami ingin hidup lebih baik, bibit yang ditanam bersertifikat dan terjamin mutunya,” kata Suhaeri yang saat ini pula dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Swadaya Kita. (T2)