INFO SAWIT, KAMPAR - Anuar (43) menginjakkan kaki di Tapung Hilir sudah 24 tahun silam tepatnya tahun 1992, untuk berkebun sawit. Lahan yang dimiliki Anuar pun terus bertambah, salah satunya lahan miliknya yang dibangun dan dikelola secara swadaya. “Dulu kita kerjakan sendiri, bibit kita dapat dari kawan dengan harga Rp 75 ribu per kantong, kita buat pembibitan di belakang rumah,” tutur Anuar asal Medan, Sumatera Utara itu kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Desa Kijang Makmur.
Anuar yang juga semenjak 2006 silam menjadi salah satu guru di MTS Jami Al-Kautsar, membangun kebun swadaya nya secara bertahap, dimulai semenjak 1997 dan rampung tertanam seluruhnya pada tahun 2000 an.
Harapan kebun sawit yang dibuka secara swadaya itu bakal menghasilkan produksi tinggi guna manambah pendapatan, namun yang didapat justru sebaliknya. Harapan mendapat penghasilan tinggi pun pupus sudah, akibat penggunaan bibit yang tidak bersertifikat, perawatan yang serampangan serta penerapan pupuk yang kurang memadai, hasilnya kebun sawit Anuar tidak memberikan produksi maksimal.
Lantaran kebun sawit yang dikelola secara swadaya kurang memuaskan, Anuar memutuskan turut bergabung dengan skim inovasi pembiayaan peremajaan, beserta petani lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Swadaya Kita. “Apapun alasannya bibit bersertifikat dengan yang sembarangan hasilnya berbeda,” katannya.
Dengan bergabung dalam skim inovasi pembiayaan peremajaan, kebun sawit milik Anuar pun diharapkan bakal memberikan hasil yang lebih maksimal. “Paling tidak hasil produksinya bisa sama dengan kebun sawit plasma mitra perusahaan,” tandas Anuar. (T2)







