INFO SAWIT, JAKARTA - Sebagai penghasil minyal sawit (CPO dan PKO) terbesar di dunia, pengembangan produk hilir sawit berupa emulsifier ini perlu mendapatkan perhatian yang besar.
Emulsifier berbasis sawit yang berpotensi besar untuk dikembangkan adalah emulsifier sintetis , mono dan di-acyl glycerol. Jenis emulsifier ini digunakan secara luas pada industri makanan. Mono dan di-acyl glycerol di Uni Eropa digolongkan sebagai kelas E471, sedangkan di Amerika Serikat, bahan tambahan makanan ini telah terdaftar dalam status GRAS (generally reqognized as safe) oleh FDA.
Sekitar 70% emulsifier yang digunakan dalam industri makanan adalah emulsifier jenis ini. Industri makanan yang mengunakan adalah produk-produk bakeri, coklat, es krim, margarine, jus buah-buahan, mie serta daging olahan. Selain digunakan pada makanan,emulsifiermono dan di-acyl glycerol digunakan juga dalam industri kosmetik dan pharmaseutikal sebagai bahan pengemulsi dalam pembuatan cream.
Mono dan di-acyl glyceroldapat berfungsi sebagai emulsifier, karena dua atom karbon dari gliserol memiliki gugus hidroksil yang aktif untuk memberikan karakter hidropilik pada molekul ini. Unsur gliserol bisa membentuk ikatan hidrogen dengan air pada lingkungan yang encer dan sering disebut sebagai grup kepala. Rantai hidrokarbon memberikan karakter hidropobik pada mono dan di-acyl glycerol dan sering diberi istilah ekor.
Adanya dua karakter yang berbeda hidropilik dan hidropobik pada gliserol monolaurat menyebabkan mono dan di-acyl glycerol digolongkan sebagai surfaktan dan dapat digunakan sebagai bahan pengemulsi pada campuran air dan minyak.
Selain berfungsi sebagai pengemulsi, monoacyl glycerol tertentu mempunyai efek anti bakteri. Sebagai contoh Gliserol Monolaurat (GML) memiliki potensi aktivitas antimikroba terhadap enveloped-virus dan berbagai bakteri, termasuk beberapa bakteri Gram-negatif dan beberapa bakteri Gram-positif seperti Streptococcus spp., Staphylococcus aureus dan Bacillus spp.
Bakteri yang membentuk spora, seperti Bacillus spp. merupakan mikroorganisma yang merugikan dan berperan sebagai patogen makanan. Bakteri ini tahan terhadap perlakuan pasteurisasi hingga dengan demikian perkecambahan spora dan pertumbuhan sel vegetatif dapat terjadi.
Tidak seperti kebanyakan antibiotik yang memiliki aktifitas antibakteri untuk satu bakteri, GML memiliki target banyak bakteri melalui interaksi dengan membran plasmaHal ini menjadikan GML berpotensi sebagai bahan yang dapat menjaga makanan dari aktivitas mikroba, sehingga GML memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan pegawet makanan yang aman.
Berkenaan dengan luasnya pemakaian emulsifier nabati, Indonesia sangat berkepentingan untuk mengembangkannya secara serius. Hal ini dikarenakan Indonesia tidak hanya sebagai negara produsen minyak nabati terbesar di dunia, tetapi juga sebagai negara dengan konsumen terbesar yang menghendaki emulsifier dari bahan nabati .
Emulsifier dapat menjadi produk Industri hilir sawit yang penting jika ditangani secara serius. Pada saat ini salah satu Program Penelitian Produk Hilir Sawit di BPPT adalah mengembangkan Glisero monooleat (GMO) dan Gliserol Monolaurat (GML), yang merupakan senyawa monoacyl glycerol yang dapat digunakan sebagai emulsifier maupun bahan anti bakteri pada makanan.(Dr. Wahyu B. Setianto-BPPT) – lebih lengkap baca Infosawit edisi Mei 2016







