INFO SAWIT, SUNGAI KELIK -Dalam sebuah acara peluncuran Desa Siaga Api diadakan Perkebunan Sinar Mas yang berlokasi di Ketapang, bulan Maret silam, ada yang manarik perhatian. Sosok itu laki-laki yang sudah sepuh dengan raut muka khas orang dayak.
Selalu tersenyum dan menjadi perhatian para peserta acara, ornamen dan baju yang dikenakan bapak tua itu menambah keyakinan bahwa dia adalah seorang dayak asli, betul saja saat di konfirmasi pria itu adalah Datuk Laway (70), seorang Panglima Besar Dayak Bihar, dari Kawasan Raja Hulu Air.
Datuk Laway bercerita, kebakaran lahan yang saat ini masih menjadi isu hangat pula menjadi perhatian suku dayak. Kata dia, kebakaran itu ibarat musuh dari keharmonisan antara alam dengan manusia, lantas musuh masa depan, sebab dengan terjadinya kebakaran secara otomatis telah mematikan ekonomi. “Istilah orang dayak sudah karam di darat,” tutur Datuk Laway, kepada InfoSAWIT.
Datuk Laway mengakui, kejadian kebakaran sudah barang tentu ada pemicunya, kendati demikian bukan berarti masyarakat adat, utamanya suku dayak, menjadi musabab terjadinya kebakaran. Apalagi, di suku dayakterdapat kearifan lokal misalnya sebelum membuat ladang, masyarakat berembug untuk berkompromi, guna melakukan pembersihan lahan sepanjang 3 sampai 5 meter untuk mencegah meluasnya api. “Kita buat sekat supaya api tidak masuk ke hutan,” katanya bercerita.
Nah, jikapun sampai terjadi kebakaran, pihak adat bakal berunding kembali bersama-sama melakukan pertemuan antar tokoh dan sekaligus secara bergotong royong untuk mengatasi ancaman kebakaran itu. “Pikir orang adat, dengan adanya asap itu bakal berdampak pada sendi kehidupan, seperti di kota, dengan adanya asap jarak pandang jadi pendek, kalau orang kampung itu sakit hidungnya kena asap,” kata Datuk Laway.
Bahkan tutur Datuk Laway, para tokoh adat kerap pula memberikan masukan ke perusahaan, mana lahan yang bisa dibuka untuk perkebunan dan mana lahan yang jika dibuka bakal berpotensi terjadi kebakaran. Suku dayak pun dalam upaya mengatasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan telah mengirimkan anggotanya ke kampung-kampung, dimana saat ini diperkirakan suku dayak Bihar terdapat sekitar 1.700 orang. “Itu sudah dilakukan semenjak dulu, sebelummnya tidak punya nama tim seperti saat ini, tetapi hanya membentuk sekelompok orang untuk mengantisipasi kebakaran,” katanya.
Datuk Laway pun berharap, pemerintah bisa menerapkan antisipasi kebakaran dengan cara-cara yang lebih persuasif, sebab dikhawatirkan bakal berbenturan dengan aturan adat, yang pada akhirnya mengorbankan rakyat. (T2)










