Berita Lintas
sawitbaik

Ekspor ke Timur Tengah Melonjak 37%



Ekspor ke Timur Tengah Melonjak 37%

INFO SAWIT, JAKARTA – Merujuklaporan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor minyak sawit asal Indonesia ke Timur Tengah mengalami kenaikan, sementara ekspor minyak sawit Indonesia ke negara-negara lain mengalami penurunan.

Volume ekspor minyak sawit Indonesia ke negara-negara Timur Tengah pada Mei meningkat signifikan mencapai 37% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 174,99 ribu ton pada April meningkat menjadi 240,57 ribu ton pada Mei. Sementara ekspor ke Bangladesh stagnan. Kenaikan permintaan dari negara-negara Timur Tengah karena akan datangnya bulan Ramadhan dimana mayoritas penduduk di negara-negara tersebut adalah muslim.

Sebaliknya ekspor minyak sawit Indonesia ke negara tujuan utama seperti India, China, Uni Eropa, Amerika Serikat dan Pakistan mengalami penurunan. Penurunan tertinggi terjadi pada tujuan ekspor ke Uni Eropa yang anjlok sekitar 26,7% atau dari 368,73 ribu ton pada April berkurang menjadi 270,19 ribu ton pada Mei.

Tergerusnya pemintaan karena negara Benua Biru ini sedang meningkatkan impor minyak bunga mataharinya. Amerika Serikat juga membukukan penurunan sebesar 10% atau dari 81,31 ribu ton pada April menjadi 72,82 ribu ton pada Mei.Penurunan permintaan juga diikuti negara-negara China yang membukukan penurunan permintaan minyak sawitnya dari Indonesia.

Pada Mei ini ekspor minyak sawit Indonesia ke China hanya mampu mencapai 119,32 ribu atau menurun 20% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 149,34 ribu ton. Permintaan minyak sawit Negeri Tirai Bambu ini terus menunjukkan tren penurunan sejak awal tahun. Tren penurunan permintaan China merupakan efek dari perlambatan ekonomi Negeri Panda tersebut dan juga pada dua bulan terakhir China menggalakan program untuk memperbanyak ternak di dalam negeri sehingga impor soymeal lebih digenjot.

Pakistan juga membukukan penurunan. Secara mengejutkan negara yang berpenduduk mayoritas ini mengurangi impor pada saat jelang Ramadhan. Pada Mei Pakistan memangkas impor minyak sawitnya dari Indonesia sebesar 19,5% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 181,52 ribu ton pada April menjadi 146,07 ton pada Mei. Menurunnya permintaan dari Pakistan karena Pakistan telah membeli persediaan lebih awal yang di-deliver tepat pada datangnya bulan Ramadhan sehingga kebutuhan bulan Ramadhan telah terpenuhi. “Selain itu bulan Ramadhan tahun ini juga bertepatan dengan musim panas di Pakistan, yang pada kebiasaannya konsumsi akan minyak nabati menurun pada musim panas,” catat Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, dalam siaran pers yang diterima InfoSAWIT, Selasa, (28/6)

India juga meyusul membukukan penurunan 17% atau dari 568,12 ribu ton pada April tergerus menjadi 471,53 ribu ton pada Mei. Penurunan permintaan India karena stok minyak nabati di negeri Bollywood yang tinggi. Selain itu India juga sedang mendongkrak impor minyak kedelainya untuk memanfaatkan harga yang murah. Dengan harga minyak sawit yang tinggi dan ditambah dengan bea keluar yang dikenakan oleh Indonesia dan Malaysia menyebabkan gap harga kedelai dan minyak sawit menjadi kecil. “Selain itu industri refinery India juga mengeluhkan banyaknya Impor RBD Palm Olein telah membuat refinery yang banyak menganggur,” tandas Fadhil.(T2)