Berita Lintas
sawitbaik

Emisi Karbon Kebakaran 2015 Terbesar Sejak 1997



Emisi Karbon Kebakaran 2015 Terbesar Sejak 1997

INFO SAWIT, BOGOR - Penelitian terbaru dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional  (CIFOR)menemukan kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di perairan laut Asia Tenggara tahun 2015 menghasilkan emisi karbon terbesar sejak tahun 1997, saat kekuatan El Nino terbesar berkontribusi terhadap lebih lamanya masa kekeringan dan meluasnya kebakaran saat itu.
 
Menggunakan kombinasi observasi satelit regional, pengukuran lapangan di Kalimantan dan kerangka kerja pemodelan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS),  para peneliti mendapatkan hasil bahwa emisi karbon dioksida harian yang terlepas akibat kebakaran pada September dan Oktober tahun 2015 lebih tinggi dibandingkan dengan emisi dari seluruh Uni Eropa (UE) pada periode yang sama.
 
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Scientific Reports ini dilakukan tim gabungan dipimpin oleh Vincent Huijnen dari Royal Netherlands Meteorological Institute serta Martin Wooster dari King’s College London dan NERC Earth Observation Data Centre, termasuk peneliti senior Daniel Murdiyarso dan David Gaveau dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional  (CIFOR).
   
Pada bulan September dan Oktober 2015, akibat kondisi kering dan tertundanya musim hujan memberi kontribusi terhadap semakin luasnya kebakaran lahan, serta mengakibatkan dampak asap terhadap kualitas udara dan kesehatan jutaan orang di wilayah ini.
 
Tim penelitian ini merupakan tim pertama mengukur emisi di tingkat lapangan dari lokasi kebakaran aktif di wilayah tersebut. Para peneliti mengkombinasikan data emisi dengan informasi satelit, dan untuk pertama kalinya menghasilkan estimasi emisi kebakaran 2015, yaitu menemukan bahwa 884 juta ton karbon dioksida dilepaskan di wilayah ini tahun lalu – 97% berasal dari kebakaran di Indonesia. Emisi karbon terkait sebesar 289 juta ton, dan emisi karbon dioksida ekuivalen terkait sebesar 1,2 miliar ton.
 
Satelit menyediakan data panas yang terradiasi dari kebakaran, selain juga informasi sejumlah karbon monoksida yang ada di atmosfer sekitarnya. Dari informasi ini, emisi total karbon dihitung dengan menggabungkan pengukuran dengan faktor emisi karbon dioksida, karbon monoksida dan metana yang telah diperbaharui pada saat kebakaran terjadi pada Oktober 2015 di Palangka Raya, provinsi Kalimantan Tengah – salah satu lokasi kebakaran terparah. 
 
“Ada beberapa penelitian terpisah sebelumnya saat peneliti melakukan ujicoba kebakaran di laboratorium untuk mencoba memahami karakteristik kimia dari asap kebakaran lahan gambut di Indonesia. Tetapi belum ada yang melakukan riset di lokasi kebakaran alami, khususnya saat kebakaran ekstrem yang terjadi tahun 2015. Tim kami adalah tim pertama melakukan riset ini,” kata Wooster dalam keterangan pers yang diterima InfoSAWIT, Rabu (29/6).
 
Hasil menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida regional sebesar 11,3 juta ton per hari pada September dan Oktober 2015, melampaui rata-rata harian UE sebesar 8,9 juta ton. Lebih jauh lagi, 77% emisi karbon pada tahun itu terjadi selama rentang waktu tersebut – ketika terjadi puncak kebakaran.
 
Para ilmuwan juga membandingkan hasil mereka dengan kebakaran terkait El-Nino di wilayah yang sama di tahun 1997.
 
“Pada tahun 1997 kekeringan berlangsung lebih lama. Kebakaran terjadi lebih parah dan lebih banyak hutan terbakar. Pada tahun 2015, api terutama membakar lahan terlantar terdeforestasi yang ditutupi semak dan reruntuhan kayu,” kata ilmuwan CIFOR, David Gaveau.
 
Penelitian ini memberi dampak luas bagi penelitian masa depan, baik dalam hal penelitian kebakaran bentang alam atau dampak emisi kebakaran pada iklim dan kesehatan publik, serta berkontribusi memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perlunya pencegahan kebakaran dan peningkatan tata kelola bentang alam.
 
“Menjadi amat penting yaitu kapasitas aplikasi penelitian ini dapat digunakan untuk membantu para pembuat kebijakan memanfaatkan data faktor emisi kebakaran yang akurat dalam merancang kebijakan dan melakukan antisipasi lebih awal terjadinya kebakaran serta pelepasan emisi gas rumah kaca,” kata ilmuwan CIFOR, Daniel Murdiyarso.(T2)