INFO SAWIT, BENGALON - Perjalanan hidup, dan kesetiaan Haji Salamun untuk tetap berkebun sawit tidak didapat dengan mudah. Sebelumnya Haji Salamun yang asal Kebumen, Jawa tengah itu telah menjadi petani transmigrasi perkebunan tahun 1989 lalu, dengan penempatan di ujung Pulau Sumatera, yakni Aceh.
Setelah 10 bulan mulai menikmati berkebun sawit, justru bencana menghadang. Cerita Haji Salamun, rumahnya dibakar kala itu akibat ketegangan politik yang terjadi di Aceh. Maka di tahun 1999 silam, Haji Salamun pun meminta kepada pemerintah, utamanya Kementerian Transmigrasi untuk bisa memberikan solusi akibat kejadian tersebut. “Kami mengadu ke Pak Siswono, kala itu masih menjadi menteri, karena kami sudah tidak lagi memiliki rumah,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Bengalon.
Tanpa pendapatan pasti dan kebun sawit di Aceh yang tidak bisa lagi didapat, Haji Salamun pun tahun 1999 kembali memutuskan untuk mengikuti program transmigrasi. Kala itu penempatannya di Berau, Kalimantan Timur.
Namun lantaran ada teman yang mengabari di Bengalon ada program transmigrasi, tahun 2002, Haji Salamun memantapkan diri untuk pindah, dengan modal dari menjual lahan di Berau.
Rupanya keputusan dan keteguhan H Salamanun untuk memilih berkebun sawit sebagai modal hidup tidaklah salah, lantaran kini Haji Salamun sudah bisa menikmati berkebun sawit di Bengalon dan bermitra dengan Palma Serasih Group. “Saya meyakini sawit bakal mensejahterakan,” tandas Sekretaris Koperasi Perkebunan Prima Utama itu. (T2)










