Kendati tak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang kepala desa, Bahrudin tetap melakoninya sepenuh hati. Baginya, membangun desa terpencil menjadi maju dan sejahtera, merupakan tujuan utama dalam melaksanakan amanah dari masyarakat. Berawal, dari membentuk koperasi petani dan bermitra dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Dahulu, Bahrudin memiliki usaha jual beli kayu. Usaha yang dilakoninya, membawa dirinya tiba di wilayah terpencil dekat sungai Bengalon. Tepatnya, tahun 2002 silam, dirinya kerap keluar masuk hutan untuk mencari barang dagangan kayu yang akan dijualnya ke kota Samarinda. Tiba di wilayah Sungai Bengalon, dirinya merasa betah dan kerasan hingga menetap hidup.
Sebagai daerah yang baru dibuka sebagai wilayah transmigrasi, minimnya sarana dan prasarana menjadi gambaran umum akan keberadaannya. Masyarakat pendatang yang sebagian besar dari luar pulau Kalimantan, sebagai peserta transmigran ini, banyak yang tak menduga akan kondisi daerah penempatannya. Secara bertahap, keberadaan para transmigran mulai silih dan berganti.
“Apabila tidak siap dengan keadaan dan kondisi lokasi penempatannya, maka peserta transmigran lebih memilih kembali ke kampung halamannya,” Ujar Bahrudin menjelaskan keberadaan daerah Tepian Baru yang dahulu serba sulit secara ekonomi dan banyaknya lahan tidur (tidak tergarap).
Keberadaan kayu yang tak mudah lagi didapat, mendorong dirinya bersama masyarakat setempat untuk mencari solusi lain mengembangkan pemukiman mereka. Berdasarkan pertemuan warga yang kerap digelar dari rumah ke rumah. Maka Bahrudin mendapatkan kepercayaan masyarakat, guna membentuk daerah Tepian Baru menjadi sebuah desa secara administratif.
Tahun 2005, impian masyarakat Tepian Baru berhasil terwujud, dengan terbentuknya Desa Tepian Baru secara administratif. Bahrudin didaulat sebagai Pejabat Sementara Kepala Desa Tepian Baru periode 2005 – 2007. Berbekal kepercayaan masyarakat desa, bersama masyarakat dan tokoh masyarakat, maka Bahrudin mulai membangun Desa Tepian Baru.
Berikutnya, Bahrudin kembali terpilih sebagai Kepala Desa periode 2007-2013, di masa kepemimpinannya ini, Bahrudin mengajukan Desa Tepian Baru kepada Kabupaten untuk dicarikan mitra pembangunan desa. Hasilnya, banyak perusahaan tambang dan perkebunan yang mengajukan dirinya sebagai mitra pembangunan desa.
Memilih Perusahaan Sawit
Keberadaan beberapa perusahaan yang ingin mengajak bermitra ini, secara cermat dan hati-hati dilakukan pemilihan oleh Bahrudin bersama beberapa tokoh masyarakat. Tepatnya tahun 2008, Desa Tepian Baru memilih PT Anugerah Energitama sebagai mitra pembangunan desa melalui pembangunan perkebunan kelapa sawit di daerahnya.
“Pilihan yang kami ambil waktu itu, selain berdasarkan masukan warga dan tokoh masyarakat, juga berdasarkan pertimbangan dari Kepala Dinas Perkebunan dan Bupati Kutai Timur, Isran Noor kala itu,” kata Bahrudi menceritakan awal mula kerjasama dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Pilihan kepada perusahaan perkebunan PT Anugrah Energitama, karena perusahaan memberikan kepastian akan pembangunan perkebunan kelapa sawit melalui mekanisme inti dan plasma. Dimana perkebunan milik masyarakat akan menjadi perkebunan kelapa sawit plasma bermitra dengan perusahaan.
Maka, sejak tahun 2008, dilakukan pembangunan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat, bermitra dengan PT Anugerah Energitama sebagai perkebunan plasma secara berkesinambungan. Seiring pembangunan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat, Desa Tepian Baru juga mulai bertumbuh. Tahun 2010, mulai ikut lomba desa dan mendapatkan juara ketiga sebagai desa teladan.
Berikutnya tahun 2012 hingga 2015, . . .










