Berbagai profesi yang dilakoni rakyat Indonesia dalam industri minyak sawit, seperti wiraswasta, jasa, pedagang hingga petani bakal mengalami kesulitan mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, jika rencana moratorium sawit dilakukan pemerintah. Keberadaan puluhan juta rakyat Indonesia yang menggantungkan hidup dari industri hulu hingga hilir sawit, akan mengalami kesulitan mencari penghasilan.
Di sisi lain, berbagai upaya membangun industri minyak sawit berkelanjutan, yang juga telah dilakukan pemerintah melalui mandatori Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) juga akan terhambat dengan sendirinya. Lantaran, sertifikasi ISPO yang digadang-gadang mampu mengangkat keberlanjutan minyak sawit terkesan hanya mimpi belaka.
Alhasil, banyak kerugian yang bakal menimpa nasib puluhan juta rakyat Indonesia. Ketika pemimpin negeri ini, Presiden Jokowi berencana melakukan moratorium sawit, maka berbagai efek negatif langsung maupun lanjutan, akan banyak merugikan keberadaan puluhan juta rakyat Indonesia.
Alasan yang terkemuka, ingin meningkatkan produktivitas dan kecukupan lahan perkebunan kelapa sawit dewasa ini, menjadi jargon bagi pemerintah dalam menginisiasi rencana moratorium sawit. Bila dilakukan, akankah petani kelapa sawit dapat bertahan hidup?
Sawit Menyejahterakan
Lebih dari 100 tahun, keberadaan perkebunan kelapa sawit dikembangkan di Indonesia. Sejak jaman kolonial Belanda, sawit menjadi salah satu andalan perkebunan nusantara yang berorientasi pasar ekspor ke berbagai belahan dunia. Hingga jaman Presiden Soeharto, yang mendorong pertumbuhan perkebunan kelapa sawit sebagai basis perkebunan yang memiliki masa depan cerah.
Hasilnya, perkebunan kelapa sawit tumbuh pesat, dekade 90 an, berbagai industri turunan pula berkembangan. Dari industri minyak goreng hingga oleokimia berkembang pesat hingga saat ini, bahkan industri biodiesel sebagai produsen energi terbarukan dan ramah lingkungan juga tumbuh pesat dewasa ini.
Bahkan, limbah cair dari pabrik kelapa sawit yaitu palm oil mill effluent (pome) juga menjadi bahan baku energi hijau hingga pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg). Alhasil, industri sawit dari hulu hingga hilir, mampu memberikan bukti kepada dunia, bahwa industri sawit mampu berkembang menjadi impian semua industri di dunia yaitu menjadi industri tanpa limbah.
Sejatinya, semua pertumbuhan yang dialami industri sawit merupakan bagian dari tahapan industri yang tumbuh menjadi lebih hijau, bertanggung jawab dan berkelanjutan. Sebagai informasi, dasar perkembangan industri sawit dewasa ini, mengacu kepada prinsip dan kriteria berkelanjutan seperti Pro People, Pro Planet dan Pro Profit, yang sering disingkat 3P. (Edi Suhardi - VP II Roundtable on Sustainable Palm Oil)










