INFO SAWIT, BENGALON -Sebelumnya Suryono (48) asal Bantul, Yogyakarta itu, tidak memiliki pekerjaan tetap. Hanya saja dengan modal nekad, Suryono pun ikut program transmigrasi ke Kalimantan Timur. “Tahun 2003 saya jadi transmigrasi umum,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Bengalon.
Dengan diperolehnya lahan seluas 2 ha berikut lahan pekarangan dari ikut program transmigrasi itu, Suryono berharap bakal memperoleh peningkatan ekonomi. Sayangnya mimpi itu belum langsung terwujud, lantaran setelah masuk jadi transmigran Suryono justru mendapati kondisi yang jauh lebih sulit. Akhirnya sampai di tahun 2004 muncul penawaran kerjasama kemitraan dari beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Sepanjang empat tahun, semenjak 2004 hingga 2008, tutur Suryono, masyarakat ditawari oleh beberapa perusahaan perkebunan untuk melakukan kemitraan inti-plasma, namun belum juga didapat perusahaan yang cocok.
Akhirnya tahun 2008, tiba giliran Palma Serasih Group, lewat anak usahanya PT Anugerah Energitama, menawarkan kerjasama kemitraan inti-plasma. Melihat keseriusan perusahaan masyarakat pun langsung menyetujui rencana pembangunan kebun sawit kemitraan tersebut. “Saat Palma Serasih menawarkan kemitraan dan serius kami terima,” katanya.
Sementara guna memuluskan jalannya proses kemitraan, beberapa koperasi yang sebelumnya telah ada dilebur sekaligus mendirikan Koperasi Perkebunan Prima Utama (KPPU), sebagai Koperasi yang menjadi wadah masyarakat dalam kemitraan inti-plasma dengan Palma Serasih Group. “Kini sekitar 50% anggota koperasi jadi telah menjadi karyawan kebun,” tandas Suryono. (T2)







