INFO SAWIT, MEDAN -Replanting (peremajaan) tanaman kelapa sawit rentan terkena sejumlah jamur yang berbahaya bagi produktivitasnya. Karena itu, jika ingin melakukan replanting, perusahaan atau petani harus mematuhi standar kebun.
Seperti kondisi tanah, pemeliharaan tanaman, pengairan, pemupukan, jarak tanaman dan lainnya. Dengan begitu akan lebih mudah untuk menjaga tanaman sejak awal dari gangguan jamur terutama ganoderma boninense yang menyebabkan busuk pangkal batang.
"Perlakuan sejak masa penanaman sangat penting karena akan berdampak saat mulai tumbuh hingga berproduksi. Sehingga tanaman akan sehat dan tidak terpapar jamur ganoderma. Replanting memang harus dilakukan jika tanaman sudah mati atau tidak lagi berproduksi karena sudah berumur tua. Tapi jika ingin berhasil, ya standar kebun jangan diabaikan," kata Ketua Umum Asosiasi Bio-agroinput Indonesia (ABI) Fritz Silalahi, Kamis di Medan seperti dilansir MedanBisnis.
Fritz mengatakan, replanting kelapa sawit generasi ketiga yang paling rentan terkena jamur ganodermavdan bisa memangkas produksi di atas 10%. Hal ini, katanya, menjadi musuh utama dalam peremajaan tanaman langganan ekspor ini.
Rentannya jamur menyebar pada tanaman kelapa sawit sebagai dampak dari penggunaan pupuk kimia. Sehingga unsur hara tanah semakin rendah karena tidak ada lagi cacing-cacing tanah yang berfungsi sebagai penggembur.
"Sebelum melakukan replanting sawit, ada baiknya memperbaiki kondisi tanah agar tanaman bisa tumbuh baik dan produksinya tinggi. Mengikuti standar kebun sangat penting. Karena temuan ABI, jika satu tanaman terkena jamur ganoderma, maka tanaman berjarak 50 meter akan terkena. Kerugian tentunya akan semakin banyak," kata Fritz.
Ancaman jamur terhadap tanaman kelapa sawit memang sudah sangat lama. Namun semakin bertambah karena banyak kebun kelapa sawit yang melakukan replanting hingga tiga kali. Tanah yang sudah jenuh tidak mampu lagi berproduksi dengan baik. Akibatnya, jamur pun mudah masuk dan merusak tanaman.(T2)










