INFO SAWIT, KARIANGAU - Belum jelasnya dukungan terhadap pengembangan Kawasan Industri Kariangau (KIK) berimbas pada progres investasi perusahaan di sana. Seperti yang dialami PT. Wilmar, Unit Balikpapan. Perusahaan pemasok minyak sawit (CPO) itu harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dari estimasi awal, karena pengembangan fasilitas di kawasan tersebut masih stagnan.
Perwakilan PT WIlmar, Herman Dulsalam mengungkapkan hal tersebut ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Balikpapan, kemarin (27/7)dalam kunjungan perusahaan itu di KIK. Perusahaan tadinya sudah mencanangkan investasi refinery unit di kawasan yang berlokasi di sekitar Teluk Balikpapan itu.
“Bahkan kami sudah mengangkut infrastruktur untuk pengolahan. Tapi, karena terlalu lama dan tak ada perkembangan di kawasan itu, alat-alat dan komponen lainnya terpaksa dipulangkan,” jelas Herman seperti ditulis kaltim.prokal.co.
Untuk sementara, dia menyebut, proses refinery atau pengolahan dari CPO yang mereka tampung harus mengandalkan unit di Gresik, Jawa timur. Kondisi ini memaksa biaya keluar men jadi lebih besar, setidaknya, untuk ongkos logistik.
“Sekali mengirim dengan LCT berkisar Rp 30 juta. Padahal menurut rencana, refinery unit saat ini sudah beroperasi di KIK. Karena kami memang mencanangkan investasi dari hulu ke hilir di sana,” urai dia.
Herman juga mengatakan, masalah non-teknis, seperti, klaim lahan dari pihak tertentu. Jika rancangan kawasan sudah jelas, dia berharap, siapa pun yang bertanggung jawab atas otorisasi KIK dapat menegaskan batas kewenangan perusahaan di lokasi tersebut. (T2)










