INFO SAWIT, JAKARTA- Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemtan) Dedi Junaedi mengatakan, Kemtan telah melakukan banyak workshop di sejumlah negara untuk mempromosikan produk CPO dan produk-produk pertanian asal Indonesia. Untuk produk CPO, Kemtan berupaya meyakinkan pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS) kalau Sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) merupakan bentuk keseriusan pemerintah mendukung sawit yang ramah lingkungan.
"Beberapa waktu lalu, ada empat anggota parlemen Jerman yang kami undang dan berkunjung ke perkebunan kelapa sawit di Riau yang sudah mendapatkan sertifikat ISPO dan mereka mengpresiasi upaya Indonesia mendukung sawit yang sustainable dan sudah memaparkannya di hadapan parlemen di berlin," ujar Dedi seperti ditulisKontan, Rabu.
Dedi mengatakan promosi ISPO ini merupakan upaya memperkuat brand produk CPO yang sustainable di pasar global. Untuk meningkatkan penerimaan ISPO, Kemtan menggandeng tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berhasil menjadikan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) sebagai standar produk kayu yang bisa masuk ke Eropa.
Kemtan juga tengah berupaya melobi organisasi dan parlemen di Eropa yang pro pada produk CPO. Mereka ini dinilai sangat strategis dalam mempromosikan CPO yang ramah lingkungan di negara mereka masing. Sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia juga sudah meratifikasi Peraturan Presiden (Perpres) No.42 tahun 2016 tentang pengesahan piagam pembentukan dewan negara-negara produsen minyak sawit Kedua negara akan membentuk harga CPO sendiri sebagai produsen kelapa sawit terbesar, dimana selama ini pembentukan harga itu justru dilakukan di Roterdam Belanda. Selain itu, Kemtan juga menjalin kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memantau tata kelola perkebunan kelapa sawit yang baik dan lebih akuntabel.(T2)










