INFO SAWIT, JAMBI - beberapa minggu ini, petani sawit di wilayah Batanghari harus merasakan dahaga cukup panjang. Di saat musim kemarau tiba, tanaman sawit di sana mengalami trek alias mengalami penurunan produksi secara drastis. Bahkan ada yang tidak berbuah sama sekali. Ini berdampak pada kondisi ekonomi, karena komoditas itu merupakan andalan penunjang kehidupan.
Fenomena yang terjadi saat ini, harga tandan buah segar (TBS) sawit di Provinsi Jambi bergerak stabil, di kisaran Rp 1.500 per kilogram, sementara produksi sawit menurun terimbas musim kemarau.
Semisal, petani sawit Desa Kehidupan Baru, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari. Mereka harus membayar pinjaman di bank per bulan hampir Rp 2 juta. Dengan perbandingan, besaran pinjaman lebih besar dibanding hasil panen sawit saat trek, mereka kebingungan. Saat ini, panen maksimal hanya 1 ton yang nilai nominalnya sekira Rp 1,5 juta. Padahal dulu, saat normal bisa panen 3?4 ton dengan dengan nominal Rp 6 jutaan.
Penghasilan itu akhirnya habis untuk membayar pinjaman bank, tanpa bisa membeli pupuk. Selain itu, masih ada tanggungan kebutuhan keluarga. Mau tak mau, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, mereka harus berutang ke warung. Sistem utang piutang di desa ini, sudah menjadi tradisi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, yang biasanya dilunasi setiap akhir bulan.
Dalam kondisi keuangan yang tidak menguntungkan itu, petani dihadapkan masalah, artinya tidak bisa mengeluarkan biaya untuk perawatan. Padahal secara teori, ada beberapa cara mengatasi trek. Antara lain, memastikan asupan kebutuhan air cukup dan seimbang, sehingga saat kemarau harus ditanggulangi sebelumnya. Memberi pupuk organik dan menjaga keseimbangan unsur hara.
Tulis jambi.tribunnews.com, petani sawit di Batanghari bisa digolongkan tiga bagian. Pertama, petani yang memiliki lahan dan berpekerjaan lain, semisal sebagai pegawai negeri, karyawan perusahaan. Kedua, petani sawit murni, memiliki lahan tidak punya pekerjaan lain. Ketiga, buruh tani, yang tidak memiliki lahan dan bekerja di lahan sawit orang lain.
Jika kita melihat tiga kategori tersebut, jelas terbaca siapa saja yang bakal terkena dampak saat terjadi produksi trek dan harga TBS tidak menguntungkan. Kategori dua dan tiga, secara ekonomi jelas akan terimbas, karena menggantungkan penghasilan dari sawit. Sementara untuk kategori satu, yang punya pekerjaan lain bisa dibilang masih "tertolong".
Perlu diingat, permasalahan ekonomi di tingkat petani sawit bukan hanya bergantung masalah internal, semisal produksi dan pengelolaan. Ada faktor eksternal yang secara finansial sangat menentukan, yaitu harga TBS ditentukan pasar dunia.
Dalam kondisi trek saat ini, petani sawit yang rerata dari golongan ekonomi menengah ke bawah, memerlukan "uluran tangan" pemerintah. Selain untuk mengatasi penurunan produksi yang terjadi tiap tahun, permasalahan harga juga harus jadi diperhatikan. Sampai saat ini, pemerintah tidak bisa berbuat banyak karena penentuan harga TBS tergantung pasar dunia.(T2)










