INFO SAWIT, SAMARINDA - Tidak bisa dipungkiri. Harta yang melimpah itu, selain aren, adalah kelapa sawit. Komoditas unggulan di Benua Etam itu begitu hebat potensi produksinya. Lebih banyak untung ketimbang ruginya. Dibanding produksi pertambangan, berbanding terbalik nilainya.
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman (Unmul), Zulkarnain, membeberkan hasil penelitiannya terkait potensi produksi komoditas unggulan Kaltim. Baik itu kelapa sawit, karet, hutan tanaman industri, hutan alam, batu bara, minyak bumi maupun gas bumi.
Pria yang akrab disapa Zul itu menjabarkan, kelapa sawit yang terbagi dari crude palm oil (CPO), kernel, maupun limbah tandan buah kosong (TBK), sama-sama memiliki potensi besar untuk membangkitkan Kaltim dari tidur lelapnya.
Dari komoditas kelapa sawit itu, terdapat luas tanaman 3.020.873,00 hektare. Dari itu, memiliki penyerapan tenaga kerja 976.571 orang, dengan penerimaan Rp 3 juta per bulan tiap hektare bagi masyarakat.
Sementara CPO diprediksinya, akan bisa memproduksi hingga 24,1 juta ton per hektare per tahun, jika terus digarap hingga 2018 atau 2020. Ini akan menghasilkan nilai jual hingga US$ 29 miliar per tahun, dengan asumsi harga pasar terendah ekspor yang saat ini sekira US$ 750 per metrik ton (MT).
Dengan penghitungan tersebut, untuk kernel, berpotensi memproduksi hingga 6,041 juta ton per hektare per tahun, dengan nilai jual US$ 3,3 miliar per tahun. Sedangkan bagi limbah TBK, bisa dimanfaatkan untuk industri perkayuan, dengan perkiraan mampu memproduksi 96,6 juta ton per hektare per tahun. Sehingga limbah tersebut memiliki nilai jual US$ 103,9 juta per tahun.
Seperti ditulis kaltim.prokal.co,Zul menjelaskan, analisis penghitungan biofuel 40 persen dari bahan baku CPO, dalam hitungan barel, akan mampu memproduksi hingga 60,8 juta ton per hektare per tahun, yang bernilai US$ 4,8 miliar per tahun. Sedangkan biofuel 60 persennya, diperkirakan mampu memproduksi 91,2 juta ton per hektare per tahun, dengan nilai jual US$ 7,2 miliar per tahun.
“Sebenarnya kita bisa berdaulat dengan energi, melalui pemanfaatan sawit. Asal bisa memanfaatkan lahan rusak juga untuk sawit. Sekarang hutan yang rusak mau diapakan lagi jika tak ditanami sawit. Sebab, sawit bisa tumbuh di mana saja. Kalau bisa menguasai biofuel (dari sawit) akan menjadi negara paling maju,” tukasnya.(T2)










