Berita Lintas
sawitbaik

BPDP Biayai Riset Pengembangan Bioplastik dari Tandan Kosong Kelapa Sawit



BPDP Biayai Riset Pengembangan Bioplastik  dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Sifat plastik yang kuat, fleksibel dan sekaligus tahan lama membuat plastik bak pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Di sisi lain sampah plastik menjadi permasalahan lingkungan yang serius. Pengembangan bioplastik sudah menjadi kebutuhan untuk mengatasi permasalah ini. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) bisa dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pembuatan bioplastik. Melalui program riset Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit membiayai kegiatan riset pengembangan bioplastik dari TKKS, salah satunya melalui kegiatan kerjasama antara Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dan Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI).

Kementrian Perindustrian RI memperkirakan konsumsi plastik nasional mencapai 10 kg per kapita per tahun dan meningkat sebesar 6-7% per tahunnya. Nilai ini memang masih lebih kecil daripada konsumsi plastik negera-negara tetangga, seperti Malaysia 56kg, Singapura 93kg dan Thailand 45kg. Namun, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta menyebabkan kebutuhan plastik secara nasional sangat besar dan berpotensi terus meningkat. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai permasalah sampah plasik sudah sangat serius. Data dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menyebutkan bahwa dalam satu tahun telah mengeluarkan 10.95 juta kantong plastik. Setengah dari jumlah kantong plastik itu hanya sekali dipakai dan kemudian dibuang. KLHK mencatan volume sampah plastik mencapai 14% dari total sampah nasional.

Sampah plastik, terutama yang masuk ke perairan dan lautan akan berubah menjadi berukuran sangat kecil yang dikenal dengan mikro plastik. Polusi mikroplastik saat ini menjadi perhatian besar dari para pemerhati lingkungan. Sampah mikroplastik sangat berbahaya karena bisa masuk ke rantai makanan dan terakumulasi dalam tubuh organisma. Sampah mikroplastik bisa menumpuk di dalam daging ikan dan bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui asupan makanan turunan ikan. Berdasarkan data dari Jambeck (2015) Indonesia adalah negara terbesar kedua yang menyumbang volume sampah plastik di lautan, yaitu sebesar 187.2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262.9 juta ton.

Berbagai upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik sudah dicoba dilakukan, seperti kebijakan pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar. Banyak pihak menilai kebijakan ini tidak banyak berpengaruh terhadap konsumsi sampah nasional. Salah satu upaya yang dianggap menjanjikan adalah pengembangan bioplastik, yaitu plastik ramah lingkungan yang dibuat dari bahan terbarukan dan bisa terurai secara biologi di alam. Bioplastik akan hancur dengan sendirinya di alam dalam jangka waktu tertentu, sehingga tidak akan menumpuk dan mencemari lingkungan.

Data dari European Bioplastik menunjukkan peningkatan permintaan bioplastik secara global. Produksi bioplastik diperkirakan meningkat dari 1.7 juta ton pada tahun 2014 menjadi 7.8 juta ton pada tahun 2019. Secara umum terdapat dua kelompok bioplastik, yaitu: biobased/non-biodegradable plastik, yaitu plastik yang berbahan baku bahan-bahan non minyak bumi dan terbarukan; dan biodegradable plastik, yaitu plastik dari bahan non minyak bumi dan bisa terdegradasi di alam. Produksi global biobased/non-biodegradable plastik mencapai 60.9%, sedangkan sisanya 39.1% adalah biodegradable plastik. Contoh biobased/non-biodegradable plastik antara lain: Bio PET30, Bio PE, PTT, Bio PA; sedangkan biodegradable plastik antara lain: PLA (polylactic acid), turunan pati/starch, PHA (polyhydroksi alkanoat),  biodegradable polyester, dan selulosa terregenerasi. Persentase biodegradable plastik mulai dari yang terbesar andalah: biodegradable polyester 13%, PLA 12.2%, pati-patian 10%, PHA 2%, selulosa terregenerasi 1.6%.

 

TKKS sebagai bahan baku Bioplastik

Bioplastik tersebut dibuat dari berbagai macam bahan baku, salah satunya adalah dari monomer gula dan turunannya (selulosa). Bahan baku selulosa sangat melimpah dari limbah indusri sawit, yaitu tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Volume TKKS di Indonesia diperkirakan mencapai 27.6 juta ton. Sebagian besar TKKS ini belum dimanfaatkan, sebagian hanya ditimbun atau dimanfaatkan sebagai mulsa dan kompos. Kandungan selulosa TKKS kurang lebih 40%. Artinya, potensi selulosa dari TKKS sebesar 11 juta ton.

Keunggulan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku bioplastik dibandingkan biomassa lignoselulosa yang lain adalah sudah terkumpul di pabrik kelapa sawit dalam jumlah yang besar. Biomassa lignoselulosa yang lain umumnya tersebar, sehingga memerlukan biaya dan energi untuk mengumpulkannya. TKKS juga tersedia sepanjang tahun tanpa perlu menanam terlebih dahulu. Pertumbuhan perkebunan sawit di Indonesia yang terus meningkat menjamin ketersediaan bahan baku TKKS.

Meskipun demikian pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku bioplastik juga memiliki beberapa kendala. Biomassa lignoselulosa terdiri dari lignin, selulosa dan hemiselulosa. Kandungan lignin di dalam TKKS cukup tinggi dan tidak mudah untuk menghilangkannya. Proses isolasi selulosa menjadi tidak mudah karena kandungan lignin dan hemiselulosa ini. (Dr. Isroi, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia /PPBBI)