INFO SAWIT, SANGATTA - Defisit anggaran membuat Pemkab Kutim lebih gesit mencari sumber pemasukkan. Sektor perkebunan salah satunya. Sektor ini diyakin mampu mengganti agar tidak terlalu berharap besar dengan dana bagi hasil (DBH) sektor migas dan batubara, yang selama menjadi tumpuan utama APBD Kutim.
Untuk itu, ke depan pemerintah Kutim akan mulai mengali potensi-potensi pendapatan asli daerah (PAD) lainnya, diluar sektor tambang dan migas, yang memberikan kotribusi 90 persen APBD.
Tutur Bupati Kutai Timur Ismunandar, dari luasan lahan perkebunan sawit di Kutim sekitar 428 ribu hektar, dimana seluas 80 ribu plasma dan 22 ribu merupakan kebun sawit rakyat, maka banyak jiwa yang menggantungkan kehidupannya di potensi perkebunan kelapa sawit ini. Tentu dengan kondisi ini akan ada perputaran uang yang jumlahnya cukup besar di Kutim jika memang dibelanjakan di Kutim.
Ia menambahkan hal ini menjadi salah satu potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang bisa digali. Terlebih jika ada jasa yang dijual kepada pihak pengusaha sawit dan petani sawit. Untuk itu, saat ini pemerintah Kutim tengah merancang peraturan daerah (Perda) dan coba menggali potensi apa saja yang bisa dimaksimalkan dari sektor perkebunan sawit ini. “Namun perlu kehati-hatian dalam penyusunan aturan tersebut. Sehingga tidak merugikan pihak pengusaha,” tutur Ismunadar seperti dilansir prokal.co. (T2)










