BEIJING – Menteri Perdagangan RI Rachmat Gobel meminta agar APEC lebih berpihak pada rakyat (people-centred), lebih membuka jalan bagi pelaku UKM, serta mengatasi permasalahan kemiskinan yang masih terjadi di kawasan Asia-Pasifik.
"Indonesia siap bekerja sama dengan mitra-mitra luar negeri sepanjang memberikan keuntungan timbal balik yang seimbang. APEC harus lebih memajukan kepentingan pembangunan negara berkembang dan ekspor kelompok usaha yang terpinggirkan,” katanya mengawali rangkaian pertemuan AMM dan AELW 2014, seperti diberitakan Kemendag, Jumat (7/11/2014).
Dalam pertemuan ini, Indonesia terus mendorong kemajuan proposal-proposal yang kental unsur pembangunannya. Salah satunya adalah proposal yang diperjuangkan sejak akhir 2013, yaitu terkait perdagangan atas produk-produk yang berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan dan inklusif, serta pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.
Melalui proposal tersebut, Indonesia meminta lembaga riset APEC, Policy Support Unit (PSU), untuk memilih sejumlah “Produk Pembangunan” (Development Products) yang berdampak paling besar terhadap peningkatan pendapatan masyarakat miskin, petani, serta usaha kecil dan menengah (UKM), khususnya di pedesaan.
Perlu diketahui, PSU mengkaji 157 produk (6 HS digit) yang dinominasikan anggota APEC, 15 di antaranya dari Indonesia, yaitu sawit, karet, rotan, produk kayu, dan ikan. (T3)







