Perkebunan kelapa sawit nasional sudah dikembangkan lebih dari 100 tahun secara komersil di Indonesia. Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah mampu menjadi produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) di dunia. Lantas, kemampuan apa yang masih belum dimiliki produsen CPO nasional?
Keberhasilan sebagai produsen terbesar CPO di dunia, memang sudah lama disandang Indonesia, tepatnya sejak tahun 2006 lalu. Predikat produsen CPO terbesar, juga melekat dengan besarnya perkebunan kelapa sawit yang berada di Indonesia. Menurut data Kementerian Pertanian RI, perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 10,5 juta hektar.
Dari luasnya perkebunan kelapa sawit itu, sebesar 43% dimiliki petani kelapa sawit nasional. Luasnya perkebunan kelapa sawit milik petani, merupakan indikator keberpihakan perkebunan kelapa sawit nasional kepada rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai petani kelapa sawit. Sayangnya, petani kelapa sawit di Indonesia, masih identik dengan banyaknya kelemahan.
Seperti lemahnya dukungan perbankan, dimana petani kelapa sawit, sangat sulit mendapatkan kepercayaan pendanaan dari bank untuk membangun kebun sawitnya. Lantaran sulit mendapatkan pendanaan, maka keberadaan petani kelapa sawit di Indonesia kerap merasa terpinggirkan. Tak berdaya mengelola lahan yang dimiliki, lantaran tidak memiliki modal kerja untuk menggarapnya.
Selain itu, lemahnya akses terhadap sumber sarana produksi juga dialami petani. Guna mendapatkan benih unggul, pupuk yang tepat, herbisida dan pestisida yang baik, dan sebagainya, masih sulit didapatkan oleh petani kelapa sawit. Terlebih, lemahnya akses pasar guna mengontrol keberadaan harga jual hasil panennya.
Semua kesulitan dan kelemahan akses petani kelapa sawit, yang digambarkan diatas, hanyalah sebagian kecil dari gambaran sulitnya kehidupan seorang petani kelapa sawit. Sejatinya, keberadaan petani kelapa sawit mampu menjadi soko guru bagi perekonomian bangsa Indonesia. Lantaran, kehidupan petani yang tersebar di pulau-pulau besar akan menjadi kekuatan ekonomi yang tak mudah tergoyahkan.
Sebab itulah, . . .










