Berita Lintas
sawitbaik

MORATORIUM SAWIT, KORBANKAN PETANI?



MORATORIUM SAWIT, KORBANKAN PETANI?

Kabar tak sedap bagi perkebunan kelapa sawit nasional kembali berhembus. Adanya rencana moratorium khusus sawit dan tambang, sontak membuat kecemasan bagi banyak pihak. Termasuk petani kelapa sawit yang menggantungkan rezeki sehari-harinya dari berkebun kelapa sawit di pelosok daerah.

Petani kelapa sawit, memang sudah tak asing terdengar di telinga kita. Keberadaan profesi ini, sudah sejak lama digeluti sebagian besar penduduk desa yang terbangun ekonominya dari perkebunan kelapa sawit. Seperti kisah Suparno (46) yang sudah lebih dari 10 tahun, berjibaku sebagai petani kelapa sawit.

Suparno yang berprofesi sebagai petani kelapa sawit, sudah banyak merasakan asam garam dari pekerjaannya sebagai petani. Sebelumnya, Suparno merupakan salah satu peserta PIR Trans yang berlokasi di wilayah Kutai Timur, Kalimantan Timur. Dirinya mendapat lahan kebun seluas 4 hektar (ha) dan pekarangan rumah seluas 0,5 ha.

Dahulu, kehidupan Suparno bergantung kepada kebun palawija sebagai anggota PIR Trans. Menurutnya, program transmigrasi yang didukung pemerintah, sangat membantu dirinya dan keluarga untuk bertahan hidup. Kendati dahulu, ketika menanam palawija, sangat sulit untuk memasarkan hasil panennya.

Namun, Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, cukup tanggap dalam menyikapinya. Sebab itu, pola transmigrasi dengan pekebunan palawija, yang dirasa kurang berkembang dicarikan alternatif penggantinya. Berkat usaha bersama, kerjasama dengan Pemda dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, kini petani transmigrasi dapat merasakan hasil dari berkebun kelapa sawit.

Sebagai petani plasma dari perusahaan perkebunan kelapa sawit, dirinya mendapatkan rezeki yang lumayan baik. Hasil panen yang didapat, selain cukup untuk kebutuhan hidup sehari-harinya, juga dapat ditabung untuk membesarkan lahan perkebunan miliknya. Menurut Suparno, kini dirinya, dapat membeli lahan seluas 10 ha, yang akan digarapnya secara mandiri sebagai kebun sawit.

Namun,  . .