INFO SAWIT, JAKARTA - PT Astra Agro Lestari Tbk., menjadi anak perusahaan ASII yang juga terbilang tahan terpaan badai. Sempat mencuat kasus adanya kepemilikan saham Dana pensiun norwegia, hingga ditariknya dana pensiun norwegia tersebut, tidak membuat kondisi perusahaan bergoyang. Lantaran, dana yang ditarik itu, juga masuk kembali melalui kelompok usaha Jardine.
Melalui bendera Jardine Strategic Holdin, Ltd., yang bermarkas di Bermuda, pula membentuk perusahaan investasi di Singapura yang bernama Jardine Cycle & Carriage Ltd., dari perusahaan itulah, jardine berhasil memiliki saham sebesar 50,11% dari PT Astra Internasional Tbk., yang merupakan induk usaha Astra Agro Lestari Tbk., dengan porsi saham sebesar 79,68%.
Tentunya, keberadaan AALI secara bisnis sangat kuat. Lantaran sebagai emiten perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar kedua di Indonesia, yang mengelola lebih dari 200 ribu ha perkebunan kelapa sawit, AALI tidak terdaftar sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Padahal, hampir semua perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tergolong besar di dunia dan Indonesia, masuk sebagai anggota RSPO.
Pasalnya, keberadaan pasar global, menuntut adanya tanggung jawab perusahaan perkebunan kelapa sawit memberikan informasi kepada publik, mengenai produksi minyak sawit mentah (CPO) yang bertanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan. Dimana sertifikasi RSPO melalui penerapan Prinsip dan Kriteria yang diaudit pihak ketiga menjadi landasannya.
Astra Agro Lestari Tbk., selalu beralasan mengelola perkebunan kelapa sawit berdasarkan regulasi pemerintah semata. Semboyan nasionalisme, kerap dilontarkan para petinggi AALI, padahal kepemilikan perusahaan secara mayoritas dikuasai perusahaan investasi asing Jardine. Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang secara mandatori diwajibkan pemerintah, menjadi satu-satunya sertifikasi yang dilakukan Astra.
Ironis sebetulnya, lantaran keberadaan AALI juga bergantung kepada konsumen besarnya, yang tak lain produsen atau pedagang CPO besar juga. Produsen dan pedagang CPO yang menjadi konsumen besar Astra ini, seperti Wilmar, Musim Mas dan Sinar Mas, bahkan sudah memiliki komitmen yang jauh lebih tinggi dari berbagai standar sertifikasi yang berlaku di industri minyak sawit.
Tidak melakukan deforestasi, tidak membuka lahan gambut, tidak membakar lahan dan sebagainya, menjadi identitas baru dan komitmen berkelanjutan produsen dan pedagang CPO besar ini. Komitmen ini diperkuat dengan berbagai label sertifikasi yang mereka miliki, seperti IPSO, RSPO, ISCC, dan sebagainya. (T1)







