INFO SAWIT, SAMARINDA –Pada Selal (18/10) lalu, lima indvidu orangutan diantaranya J-lo, Jamur, Saprol, Rafli, dan Kent kembali ke alamnya. Orangutan yang dilepasliarkan setelah bersekolah di Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Samboja, Kutai Kartanegara. Mereka kembali ke habitat aslinya di hutan kawasan Kutim dan Kukar.
CEO BOS Foundation Jamartin Sihite mengatakan, pelepasliaran ini adalah bagian dari memenuhi target 250 orangutan yang dilepasliarkan hingga akhir 2016. “Empat orangutan yang sebenarnya dilepasliarkan. Khusus satu orangutan, yakni Kent jadi kedua kali pelepasliarannya,” jelas Jamartin kutip prokal.co.
Dia mengatakan, orangutan umumnya membutuhkan waktu 7-8 tahun untuk sekolah alam liar. Selama sekolah ini, mereka diajari bagaimana bertahan hidup dan berinteraksi dengan hewan di hutan sesungguhnya. Pelepasliaran sebenarnya bukan hal mudah. Selain, orangutan harus siap. Hutan juga siap.
Sayangnya, hutan kini mulai terdegradasi akibat pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Setelah pelepasliaran, orangutan tidak dilepas begitu saja. Tapi, juga harus dievaluasi. Apakah mereka bisa beradaptasi atau tidak. Jika tidak, bisa seperti Kent.
Diungkapkan Jamartin, pihaknya memiliki 1.800 hektare hutan untuk rehabilitasi. Namun, 200 hektare terbakar tahun lalu dan beberapa hektare jadi perkebunan masyarakat. Maka dari itu, pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah. Jangan sampai kejadian pada 2002 hingga 2011 terulang lagi. Sebab, pada masa itu BOS Foundation tidak bisa melepasliarkan orangutan karena ketiadaan lahan. Jadi, pemerintah diharapkan bisa membantu ketersediaan lahan di Kaltim.
“Ongkos melepasliarkan juga tidak murah. Butuh kendaraan yang memadai. Dibandingkan menggunakan mobil, helikopter lebih efektif. Namun, ya memang tidak murah,” imbuh Jamartin.(T2)










