Berita Lintas
sawitbaik

Paradigma Baru Pengelolaan Sumberdaya Alam Berkelanjutan



Paradigma Baru Pengelolaan Sumberdaya Alam Berkelanjutan

INFO SAWIT, BOGOR - Pendekatan holistik dalam pengelolaan sumber daya alam telah lama dikenal, namun dalam praktek pengelolaannya sumberdaya masih dilihat secara terpisah untuk memenuhi tujuan sektoral. Keputusan pengelolaan secara sektoral tanpa koordinasi yang efektif dengan sektor lain, seringkali berdampak negatif pada ketersediaan sumber daya secara keseluruhan.

Sebagai contoh, di Indonesia, ekspansi yang cepat dari perkebunan dan perindustrian telah memperkuat perekonomian nasional dan mengangkat banyak produsen kecil keluar dari kemiskinan. Namun, juga telah menyebabkan tingginya deforestasi, konversi rawa gambut, hilangnya keanekaragaman hayati, peningkatan emisi CO dan kebakaran hutan. Hal ini juga memiliki dampak negatif pada kesehatan manusia dan memaksa terjadinya migrasi dari daerah dampak.

Kesadaran atas berbagai masalah kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan telah mendorong berbagai pihak untuk mengadopsi pengelolaan lansekap berkelanjutan sebagai basis pembangunan berkelanjutan. Berbagai agenda internasional, termasuk negosiasi iklim global, New York Declaration on Forest dan Bonn Challenge juga mendorong percepatan adopsi pengelolaan lansekap berkelanjutan. 

Melihat gerakan global yang menyepakati bahwa skala lanskap merupakan pendekatan yang paling tepat untuk mewujudkan konsep pembangunan berkelanjutan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor (DKSHE-IPB) melalui Divisi Manajemen Kawasan Konservasi, menggelar lokakarya nasional bertajuk “Pengelolaan Kawasan Konservasi dalam Konteks Pembangunan Berkelanjutan” di Taman Tekno IPB, belum lama ini di Bogor.

Salah satu pembiacara, Ir. Haryanto, MS memaparkan materi “Pergeseran Paradigma Pengelolaan Kawasan Konservasi dalam konteks Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan”. Materi ini menyoroti kegagalan pengelolaan sumber daya alam secara global ketika upaya dan inisiatif yang dibangun untuk menguatkan aspek konservasi bagi ekosistem melalui paradigma pembangunan berkelanjutan tidak dapat menghambat laju kehilangan sumberdaya hayati (biodiversity loss).

“Dengan kerangka pikir saat ini, kehadiran manusia cenderung menurunkan keseimbangan dinamis berbagai subsistem alam hingga batas yang tak terpulihkan. Jika dan hanya jika terbangun kesadaran kolektif yang tinggi atau kesadaran sang khalifah, manusia akan menemukan peran fitrahnya dalam mempertahankan kelestarian jasa ekosistem di muka bumi,” katanya dalam rilis yang diterima Info SAWIT.

Sejalan dengan hal tersebut, materi selanjutnya yang dibawakan Prof. Hadi Alikodra menekankan bahwa kualitas yang ditemukan di alam, termasuk kayu, air bersih, kehidupan liar, keanekaragaman spesies, dan lansekap yang indah dapat dianggap sebagai SDA yang digunakan untuk kesejahteraan umat manusia dalam jangka panjang. Ide ini dikembangkan lebih lanjut melalui konsep pengelolaan lansekap, yang menempatkan prioritas pengelolaan untuk kesehatan dan pemulihan ekosistem serta spesies liar.

Guru besar konservasi tersebut menyoroti pentingnya koridor untuk konektivitas keragaman genetik antar kawasan konservasi. Koridor satwa inipun oleh KLHK telah ditetapkan menjadi bagian kawasan ekosistem esensial,”Keuntungan utama adanya kawasan yang berfungsi sebagai koridor satwaliar adalah membantu restorasi dan proteksi kehati serta pertukaran bahan genetik diantara habitat utama. Keuntungan lainnya adalah mereduksi erosi, memperbaiki kualitas air, menghasilkan habitat lokal maupun menjaga iklim setempat,” tandas Hadi. (T2)