Berita Lintas
sawitbaik

Standar Harga TBS Swadaya Butuh Kepedulian Pemerintah



Standar Harga TBS Swadaya Butuh Kepedulian Pemerintah

INFO SAWIT, JAKARTA – Selama ini pemerintah acap kali membanggakan bahwa perkebunan kelapa sawit, sekitar 43%, dikelola oleh petani, baik petani maupun petani swadaya. Porsi petani swadaya mencapai lebih dari 80% dari total lahan sawit yang dikelola petani.

Sayangnya, jargon sawit adalah produk yang hampir mayoritas dihasilkan dari petani kerap kali juga tidak mendapat tempat di hati pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas hasil produksi mereka.

Wajar jika banyak petani kelapa sawit swadaya merasa kecewa. Seperti diungkapkan Nahason Sitorus kepada Info SAWIT. Nahason berharap, ada perhatian atau kehadiran pemerintah dan pemegang kepentingan lainnya, seperti organisasi dibidang persawitan, untuk peduli terhadap petani sawit swadaya (yang membangun kebun sawit sendiri dengan luasan yang kecil).

Misalnya, kepedulian terhadap pemberlakuan harga jual. Tutur Nahason, petani swadaya saat ini masih jadi anak tiri di negerinya sendiri. Ketentuan pemerintah provinsi dalam menetapkan harga hanya berlaku bagi petani plasma KKPA/kemitraan (yang bermitra dgn perusahaan). “Perhatian terhadap petani sawit swadaya tidak ada sama sekali,” katanya.

Padahal petani swadaya acap mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Contohnya di Sumatera Selatan pada periode Oktober – berdasarkan pemberitaan Info SAWIT, harga yang ditetapkan pemerintah Rp 1.950 /kg TBS untuk umur >10 tahun, tetapi di Lahat, harga sawit petani swadaya hanya mencapai Rp 900/kg.

Ada selisih harga Rp 1.050/kg dan bak langit dan bumi. Nahason berpikir, ini tidak akan mungkin terjadi jika ada campur tangan pihak terkait. “Untuk itu kami mohon bantuan bapak-bapak pemangku kepentingan di masalah persawitan ini agar dapat memberikan solusi untuk menuntaskan masalah ini. Karena hampir 30% dari luas sawit dimiliki oleh petani swadaya. Jangan hanya industri yg modal besar jadi perhatian. Negara perlu hadir untuk menyelesaikan masalah besar ini karena menyangkut 40 juta masyarakat,” tandas Nahason.

Sementara kondisi serupa dialami pembaca Info SAWIT lainnya, Sebastian Ramam asal Mamuju Utara. Didaerahnya harga justru tercatat anjlok cukup jauh. Kata dia, beberapa waktu lalu harga hanya mencapai Rp 700/kg dan sampai saat ini harga hanya mencapai Rp 1.300/kg. “Itu adalah harga tertinggi dibandingkan daerah lain, karena ada daerah mencapai Rp.1600- Rp. 2000/kg. Padahal kualitas CPO pabrik pengelolahan sawit kami adalah kualitas terbaik, yakni super goldenCPO,” tandas dia. (T2)