Berita Lintas
sawitbaik

MENDORONG KEPEDULIAN DAN PROSPEK SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA



MENDORONG KEPEDULIAN DAN PROSPEK SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA

Kepedulian masyarakat dunia terhadap pelestarian lingkungan semakin menguat, ini dibuktikan dengan adanya kontrol konsumen dalam memilih produk dari sumber yang tidak merusak, baik dari segi lingkungan atau sosial (sustainable). Industri pun didorong mengadopsi kaidah lingkungan dalam operasinya, lantas bagaimana prospek sustainability itu di Indonesia?

Dalam sebuah diskusi rutin yang diadakan lembaga nirlaba multistakeholder untuk minyak sawit berkelanjutan, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), di Jakarta akhir September lalu, Direktur RSPO Indonesia Tiur Rumondang, menyampaikan presentasi yang cukup menarik, terkait perubahan pasar otomotif dunia yang semenjak dikembangkannya kendaraan roda empat era 1900 an.

Pasar otomotif dunia tercatat terus memperbaiki diri, yang sebelumnya menggunakan kesederhanaan teknologi dan minim perangkat keamanan, hingga terus dilakukan perbaikan sampai penyempurnaan teknologi beserta perangkat keamanannya, termasuk teknologi ramah lingkungan misalnya teknologi kendaraan hybrids.

Dari presentasi  itu bisa diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya pasar di dunia, apapun produknya, akan terus mengalami perubahan tanpa terkecuali menuju pengembangan produk yang lebih baik dan disesuikan dengan kebutuhan konsumen.

Nah, ternyata pasar minyak nabati termasuk kelapa sawit pun mengalami fase tersebut, dimana fase yang saat ini sedang terjadi adalah adanya dorongan industri kelapa sawit melakukan perbaikan dengan menerapkan prinsip praktik budidaya sesuai dengan kaidah lingkungan dan sosial.

Puncaknya perubahan itu tutur Tiur, saat mulai muncul secara masif adanya pilihan konsumen yang menghendaki produk berbahan baku minyak sawit dari pengelolaan yang ramah lingkungan dan sosial, misalnya tidak mengusir dan menyakiti orangutan, urgensi pengelolaan yang rendah emisi, tidak memperkerjakan anak di bawah umur dan tidak mengganggu hak masyarakat lokal.

Kondisi ini merupakan salah satu fase perubahan perilaku pasar yang mau tidak mau harus dialami oleh industri kelapa sawit nasional. Lantas kenapa perilaku pasar ini bisa terjadi? Kondisi demikian terjadi akibat manusia mulai merasakan keterbatasan sumber daya alam untuk kehidupannya kedepan. Dengan adanya keterbatasan itulah maka masyarakat sadar bahwa sumber daya alam tidak boleh terlalu dieksploitasi lantaran bakal berdampak pada perusakan lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupannya di kemudian hari.

Kejadian dan pola perubahan perilaku pasar banyak ditemui di negara-negara maju yang memang sudah mengalami fase keterbatasan tersebut, sehingga wajar bilamana konsumen di dunia akan secara suka rela membeli produk berbasis ramah lingkungan itu dengan harga lebih mahal, harapannya akan membantu memberikan masukan terhadap industri untuk melakukan perbaikan budidaya dengan cara yang lebih ramah lingkungan. 

Lantas  . . .