INFO SAWIT, JAKARTA – Semenjak 2006 silam, Indonesia mengukuhkan dirinya sebagai produsen minyak sawit nomor wahid dunia, menyusul negeri Jiran. Diakui atau tidak, pertumbuhan pesat industri kelapa sawit nasional itu berdampak positif bagi bertumbuhnya ekonomi nasional. Selain juga sebagai pembuka lapangan kerja bagi para pemuda baik di kebun sawit maupun disektor jasa pendukung perkebunan kelapa sawit.
Tahun 2015 lalu, tercatat volume produksi CPO Indonesia telah mencapai 32,5 juta ton dengan nilai sekitar US$ 26,4 juta. Tingginya produksi itu sayangnya tidak diimbangi dengan produktivitas kelapa sawit nasional yang relatif masih rendah. Hal ini yang menciptakan peluang bagi para pengusaha muda yang ingin berbisnis di bidang jasa pendukung perkebunan kelapa sawit.
Seorang pengusaha yang memilih berbisnis di bidang perkebunan, Eko Darmawan menyebutkan, saat ini ada banyak jasa yang dapat menghasilkan pendapatan menggiurkan terkait perkebunan kelapa sawit. “Selama produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional belum optimal maka akan menciptakan peluang bagi para entrepreneur di bidang kelapa sawit untuk memberikan layanan bagi perusahaan perkebunan atau pemilik kebun,” kata Eko.
Seperti halnya perusahaan yang ia kelola bersama sejumlah rekan-rekannya yang juga masih berusia muda, PT. Mitra Agro Servindo, muncul sebagai perusahaan konsultan yang telah menjadi mitra dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit luar dan negeri. Dengan menawarkan beragam jasa, semisal kultur jaringan, agronomi dan pabrik.
Lebih lanjut tutur Eko, pasar benih nasional masih berpotensi untuk diisi sejumlah varietas baru, sebab itu pihaknya telah mengikat bekerjasama dengan perusahaan dalam dan luar negeri untuk dapat memasarkan benih unggul kepada perusahaan dan perkebunan rakyat. “Kami telah mengikat kerjasama dengan sebuah perusahaan asing untuk membangun kebun sumber benih 2 tahun mendatang, sehingga aktivitas tersebut selain menyediakan lebih banyak pilihan bagi pekebun, juga memperkaya kekayaan plasma nutfah kelapa sawit di Indonesia,” jelas Eko.
Menurut Eko menjadi sawitpreneur adalah sebuah pilihan bagi anak-anak muda yang selama ini masih cenderung menjadikan usaha properti dan investasi keuangan sebagai pilihan utama. Pasalnya uang yang beredar di perkebunan kelapa sawit cukup besar, di sisi lain perkebunan kelapa sawit masih menghadapi sejumlah permasalahan, mulai dari produktivitas yang rendah hingga larangan pemanfaatan lahan gambut atau hutan untuk pengembangan sawit. Sehingga upaya peningkatkan produksi hanya bisa dilakukan melalui intensifikasi.
Sayangnya belum banyak generasi muda yang menyedari dan mengetahui peluang di bidang jasa perkebunan kelapa sawit. Seminar terkait sawit preneur juga belum sering diselenggarakan. Padahal modal yang diperlukan untuk menjadi sawitpreneur tidak terlalu besar khususnya bentuk usahanya adalah penyedia jasa bagi perkebunan kelapa sawit.
“Rahasia menjadi sawit preneur yang sukses adalah mampu melihat kebutuhan pekebun, lalu mampu membangun networking secara global. Adakalanya kita tidak perlu menciptakan teknologi baru namun cukup mendatangkan teknologi dari luar yang sudah teruji untuk kemudian dikembangkan di dalam negeri. Selain itu, munculnya berbagai masalah pada perkebunan kelapa sawit seringkali menciptakan peluang baru bagi para penyedia jasa perkebunan,” jelas Eko
Sementara Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo), Asmar Arsyad, mengapresiasi anak-anak muda yang tertarik berbisnis di bidang kelapa sawit. Pasalnya saat ini perkebunan khususnya kelapa sawit mulai ditinggalkan generasi muda dan menyisakan orang-orang tua di dalamnya. Padahal faktanya berbisnis di bidang komoditas penghasil CPO tersebut sangat menarik dan menguntungkan.
Melalui adanya spirit orang muda dalam pengembangan sawit diharapkan dapat mendongkrak daya saing kelapa sawit melalui inovasi, kreativitas serta aplikasi teknologi terkini khusunya di bidang IT. “Perkebunan kelapa sawit membutuhkan pikiran-pikiran yang out of box dari anak-anak muda untuk menciptakan perubahan wajah perkebunan kelapa sawit nasional”, jelas Asmar.
Selain itu, kata Asmar, kehadiran para sawit preneur diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan di dalam negeri. “Serta, dapat mendorong perbaikan produktivitas serta citra kelapa sawit nasional,” tandas Asmar. (T2)






