INFO SAWIT, HAWAI - Pada perhelatan IUCN World Conservation Congress 2016 di Hawaii pada awal September 2016 yang lalu, komitmen pengelolaan sustainable landscape di Sumatera Selatan mendapat apresiasi dan menjadi contoh model kemitraan para pemangku kepentingan yang solid untuk membangun lanskap berkelanjutan. IDH-The Sustainable Trade Initiative bangga menjadi bagian dari perjalanan penerapan salah satu model konsep sustainable landscape di dunia ini.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin memaparkan paradigma baru pengelolaan Sustainable Landscape di Sumatera Selatan melalui kemitraan dengan pemangku kepentingan pada perhelatan IUCN World Conservation Congress di Hawaii.
Alex menjelaskan, kebakaran pada 2015 di Sumatera Selatan merusak 700.000 hektar hutan dan lahan gambut. Program kemitraan dalam pengelolaan ekoregion atau lanskap berkelanjutan dipercaya dapat mengatasi dan mengurangi masalah kebakaran terulang kembali. Selain itu pendekatan ini juga bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan ekologi yang berkelanjutan dengan konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan hutan dan lahan gambut, yang dituangkan dalam sebuah Rencana Pertumbuhan Hijau (Green Growth Plan).
Kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga non-pemerintah dan donor internasional, seperti Asia Pulp and Paper (APP), ZSL, GIZ, IDH-The Sustainable Trade Initiative, NICFI, UKCCU, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, dan Belantara Foundation memainkan peran utama dalam perlindungan hutan, lahan gambut dan ekosistem yang sehat sekaligus peningkatan produktivitas serta penghidupan petani atau masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan.
Pengelolaan sustainable landscape di Sumatera Selatan akan menjadi salah satu contoh penerapan konsep ini di dunia dan sebuah paradigma baru pembangunan wilayah yang mengedepankan kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan. (T2)









