INFO SAWIT, SERUYAN - Memiliki petani kelapa sawit berdaya saing menjadi target Bupati Seruyan, Sudarsono, caranya dengan mendorong seluruh petani sawit di Seruyan, Kalimantan Tengah menerapkan praktik berkelanjutan sesuai standar sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Jika petani sudah memperoleh sertifikat berkelanjutan itu, Sudarsono meyakini, petani lokal atau tradisional bisa menjual sawitnya ke pihak mana pun. "Kami yakin petani kami bisa mencapai standar. ISPO dan RSPO, sehingga bisa disejajarkan dengan petani besar," kata dia, belum lama ini, di depan delegasi lima perusahaan importir minyak kelapa sawit (CPO) dari China sepert dilansir kontan.co.id.
Pada tahap awal, Pemda Seruyan sudah mulai melakukan pendataan kebun-kebun petani. Sudarsono mendorong petani mendapatkan legalitas atau sertifikat tanah, juga mendapatkan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Merujuk informasi, per awal November, sudah lebih dari 2.560 petani dengan luas lahan 6.713 hektare (ha) yang dipetakan.
Jika telah dipetakan, Pemda akan lebih mulus mendorong petani mendapatkan sertifikasi internasional. "Saya yakin, dalam satu-dua tahun, sudah ada sebagian petani yang memiliki sertifikat RSPO atau ISPO," kata Sudarsono.
Seruyan menjadikan perkebunan sawit sebagai tulang punggung daerah. Dalam catatan Sudarsono, ada 500.000 ha kebun sawit besar yang sudah mengantongi izin. Seluas 300.000 ha di antaranya sudah ditanami. Produksi sawit ini didukung 22 pabrik pengolahan.
Petani Seruyan pun mengaku mau ikut sertifikasi CPO. Salah seorang petani berladang 4 ha, Abdul yakin, sertifikasi akan mendorong posisi tawar petani ketika menjual ke korporasi besar. (T2)










