INFO SAWIT, JAKARTA - Potensi pengembangan energi terbarukan untuk pemenuhan kebutuhan listrik dari biogas yang berasal dari Palm Oil Methylester Effluent (POME), atau limbah cair kelapa sawit cukup tinggi. Terlebih banyak berada wilayah di luar Jawa dan berada di romote area, yang justru belum bayak teraliri listrik.
Jelas pengembangan biogas plant berasa dari POME, selain sebagai upaya mereduksi emisi karbon di perkebunan kelapa sawit juga menjadi sumber energi bagi pabrik kelapa sawit dan masyarakat daerah sekitar kebun.
Bahkan, akibat tingginya daya listrik yang dihasilkan, maka pihak perusahaan bisa menjual kelebihan penggunaan listrik (excess power) ke Perusahaan Listrik Negara Persero (PLN), dengan harga yang cukup menarik.
Cara demikian harapanya bakal kembali memicu pembangunan plant biogas dan biomassa untuk menunjang kebutuhan pasokan tenaga listrik nasional. Berdasarkan pantuan InfoSAWIT, pembangunan plant biogas oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit mulai masif dilakukan semenjak 2011 silam, dan saat ini sudah terdapat beberapa perusahaan kelapa sawit baik swasta maupun plat merah besar, yang sudah membangun plan biogas, dimana hasilnya bisa digunakan secara internal atau sisa energinya di jual ke PLN.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sudah membangun plan biogas diataranya, PT Sinar Mas Agro Research and Techology (SMART) Tbk., PT Austindo Nusantara Jaya Agri Tbk., Sipef Group, Cocomas, Cargil, Asian Agri, Permata Hijau Group dan masih banyak lagi.
Merujuk informasi dari Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi, sampai semester I tahun 2016, kinerja pengembangan energi terbarukan untuk Pembangkit listrik tenaga bioenergi telah mencapai 1.754,6 MW atau sekitar 85% dari target yang telah ditetapan untuk tahun 2016 yang mencapai 2.069,4 MW.
Dari laopran EBTKE itu total investasi di 2016 untuk pembangkit listrik tenaga bioenergi mencapai US$ 44,3 juta, dengan kapasitas mencapai 65,7 MW. Sementara EBTKE menargetkan investasi di pembangkit listrik tenaga bioenegi dan Bahan Bakar Nabati (BNN) mencapai sebanyak US$ 314,7 juta.
Pemerintah pun optimis mampu mengembangkan energi baru terbarukan sebesar 3,6 gigawatt (GW) per tahun dalam kurun waktu 10 tahun. Ini merupakan salah satu langkah untuk mencapai target 23% energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional atau setara dengan 45 GW pada tahun 2025. (T2)
Lebih lengkap baca Info SAWIT edisi Oktober 2016
Http://www.store.infosawit.com







