Dorongan penggunaan bahan baku dari produksi minyak sawit yang berkelanjutan pun, mulai terlihat pada industri hilir sawit di dunia. Hanya saja, masih lambat implementasinya lantaran masih banyak perusahaan yang meminta jeda waktu.
Megahnya perhelatan akbar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dua tahun silam (2013) di Singapura, menjadi awal langkah lembaga nirlaba multistakeholder tersebut mengkampanyekan transformasi pasar minyak sawit, menuju pasar yang menggunakan bahan baku berkelanjutan.
Alasan upaya itu dilakukan lantaran penyerapan pasar produksi CPO berkelanjutan (CSPO) masih nampak melempem, lantaran masih banyak keengganan dari para pengguna minyak sawit di seluruh rantai pasok yang menggunakan CSPO. Kabarnya akibat masih terkendala logistik dan biaya.
Misalnya saja sampai 2013 lalu, dari produksi CSPO yang mencapai 9,7 juta ton, dan Certified Sutainable Palm Kernel (CSPK) sebanyak 2,24 juta ton. Pasar CSPO dunia hanya menyerap sekitar 4,5 juta ton dari total produksi CSPO, atau baru setengahnya dari total produksi CSPO.
Jelas kondisi demikian masih jauh dari yang diharapkan, dengan kata lain kurang memuaskan. Wajar bila kemudian RSPO berkepentingan meningkatkan pasar CSPO sebagai salah satu insentif guna mendongkrak produksi CSPO di dunia.
Segala upaya pun dilakukan guna terdongkraknya pasar CSPO di dunia, seperti salah satunya mendorong para produsen pengguna minyak sawit di Eropa untuk segera menggunakan CSPO sepenuhnya. (Baca InfoSAWIT Edisi Desember 2013).
Bertempat di Estrel Hotel and Convention Center, Berlin, September 2013 silam, salah satu upaya mendongkrak pasar CSPO dengan menggelar acara Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) European Summit. Lewat acara demikian pelaku pengguna minyak sawit di Eropa di dorong untuk menggunakan lebih banyak CSPO.
Beberapa inisiatif menyerap CSPO pun digagas, semisal muncul komitmen Jerman untuk menyerap CSPO di 2015 lewat German Forum for Sustainable Palm Oil. Seolah tidak mau kalah, Perancis pun melakukan hal serupa dengan . . .










