Bermula dari semangat untuk lebih berperan dan berpartisipasi aktif dalam upaya turut memajukan perkelapa sawitan nasional, di tahun 2011 terbentuklah PT. Mitra Agro Tunas Lestari (MATL) yang berfokus pada bidang jasa. Pada 2015 perusahaan berubah nama menjadi PT. Mitra Agro Servindo (MAS) dan siap menjadi solusi bagi perkebunan di Indonesia.
Tahun lalu, 2015 merupakan tahun penuh tantangan bagi perindustrian kelapa sawit dunia khususnya Indonesia. Beranjak dari menurunnya harga minyak bumi, kemudian ber-impact pada menurunnya harga komoditi lainnya terutama CPO. Merujuk data GAPKI nilai ekspor CPO dan turunannya pada tahun 2015 mengalami penurunan hingga 11,67% menjadi sekitar US$ 18,64 Miliar, dibanding dengan nilai ekspor tahun 2014 yang mencapai US$ 21,1 Miliar.
Meskipun nilai ekspor turun, ternyata volume ekspor pada 2015 mengalami peningkatan 21% menjadi sebanyak 26,40 juta ton, dibanding 2014 yang hanya sekitar 21,76 juta ton. Fakta tersebut menunjukan bahwa meskipun Negara-negara tujuan ekspor minyak sawit mengalami perlambatan ekonomi, permintaan minyak sawit tetap tumbuh dan diproyeksikan bakal meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan pertumbuhan populasi dan kesadaran masyarakat untuk menggunakan energi hijau terbarukan.
Tahun 2016, industri sawit Indonesia tetap menjadi andalan memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Perlahan nilai jual CPO naik kembali, merujuk informasi dari Oil World yang dikutip Reuters, harga CPO pada September 2016 tembus US$ 754/ton
Seperti halnya di tahun 2015, terjadinya peningkatan permintaan sudah semestinya harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas nasional (hukum supply & demand). Jika melihat dari luasan kebun dan volume produksi yang dihasilkan, Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia saat ini masih yang terbesar di dunia.
Namun jika ditelaah lebih detail lagi . . .










