INFO SAWIT, JAKARTA - Pesatnya perkembangan industri sawit nasional menjadikannya primadona ekspor Indonesia dan menjadi penyumbang devisa terbesar. Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mampu mendukung pembangunan daerah. Namun masih sektor ini menyimpan tantangan yang mesti dihadapi.
Sertifikasi yang dilakukan oleh pemerintah belum cukup mampu dilirik dunia internasional. Masifnya kampanye kerusakan lingkungan, hancurnya biodiversitas dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh kelompok tertentumembutuhkan strategi yang matang agar pengembangan industri sawit yang berkelanjutan mempunyai positioning dan image yang baik di dunia internasional.
Oleh karena itu, Sekjen Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB), Nelly Oswini, mengatakan, Alumni IPB mempunyai peran mendorong pemerintah dan seluruh stakeholder melalui gagasan-gagasan untuk kedaulatan regulasi kelapa sawit di Indonesia. “Alumni IPB mempunyai banyak pakar yang kompeten, sehingga melalui Seminar “Strategi Memperkuat Positioning dan Image Industri Sawit Indonesia di Dunia Internasional”, diharapkan akan memunculkan konsep strategi yang arahnya menguatkan pemerintah untuk mengembangkan industri kelapa sawit nasional agar semakin diakui di dunia,” papar Nelly melalui rilis diterima Info SAWIT, belum lama ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2015 industri kelapa sawit Indonesia menghasilkan devisa US$ 18,6 miliar atau sekitar Rp 250 triliun yang dihasilkan dari luas area perkebunan 11,3 juta hektar dan kapasitas produksi 31,2 juta ton crude palm oil (CPO).
Devisa tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan devisa hasil ekspor migas. Hal tersebut menandakan bahwa kelapa sawit merupakan industri yang strategis dalam menopang perekonomian Indonesia. (T2)










