INFO SAWIT, JAKARTA - Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdalifah Mahmud mengatakan, saat ini ada empat komoditas pertanian yang diolah menjadi minyak nabati, yaitu soybean, rapeseed, sunflower, dan CPO.
Dia mengungkapkan, total kebutuhan minyak nabati dunia hingga 2025 mencapai 60 juta ton, atau naik sekitar 5 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, CPO masih minim kontribusi akibat kampanye negatif. "Kebutuhan minyak nabati dunia hingga 2025 tumbuh menjadi 60 juta ton atau 5 juta ton per tahun. Kalau negara lain mengklaim, kelapa sawit ini memicu kerusakan alam," ujar dia di Hotel Bidakara, belum lama ini.
Padahal, lanjut Musdalifah, CPO justru memiliki produktivitas paling tinggi dibandingkan dengan jenis minyak nabati lain. Sebagai contoh, total lahan minyak nabati dunia mencapai 276 juta hektare (ha). Dari jumlah tersebut, lahan soybeanyang paling luas, yaitu 122 juta ha dengan produksi sebanyak 45,8 juta ton atau memiliki produktivitas sekitar 0,4 ton per ha. Rapeseed memiliki luas lahan 36 juta ha dengan produksi sejumlah 25,8 juta ton atau produktivitasnya mencapai 0,7 ton per ha.
Luas sunflower mencapai 25 juta ha dengan produksi 15,9 juta ton atau produktivitas mencapai 0,6 juta ton per ha. Sedangkan CPO, hanya dengan luas lahan seluas 16 juta ha, namun produksinya mencapai 65 juta ton atau dengan produktivitas sejumlah 4 ton per ha.
Untuk memenuhi kebutuhan 60 juta ton minyak nabati hingga 2025, kata Musdhalifah, setidaknya dibutuhkan 115 juta ha lahan baru soybean dengan asumsi produktivitas 0,52 ton per ha. sunflower membutuhkan 84,2 juta ha lahan baru dengan asumsi produktivitas 3,96 ton per ha.
Jika dipasok dari rapeseed, setidaknya harus ada 60,7 juta ha lahan baru dengan asumsi produktivitas sebesar 0,99 ton per ha. “Sedangkan jika kebutuhan minyak nabati tersebut dipasok dari CPO, hanya membutuhkan 15,2 juta ha lahan baru dengan asumsi produktivitas 3,96 ton per ha,” tandas dia. (T2)










