INFO SAWIT, BALIKPAPAN – Upaya menekan beban biaya ekspor dan impor di Kalimantan Timur (Kaltim) lewat program direct call kini semakin terang. Tidak lama lagi, percobaan pengiriman ke Jepang akan dilakukan. Direktur Utama PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) KKT, M Basir mengakui, bulan ini pelayaran luar negeri langsung akan mulai uji coba. Komoditas yang diekspor adalah cangkang kelapa sawit ke Jepang. Kurang lebih 100 kontainer akan dikirim.
Namun, ia menjelaskan, pengiriman masih melalui Surabaya. Belum langsung ke tujuan. “Ini kan masih percobaan, jadi kita lihat dulu. Jika sudah 100 persen, mungkin dari Balikpapan bisa langsung ke tujuan,” tuturnya kemarin (7/12) seperti dikutip dari Procal co. Saat ini progres direct call atau jalur pelayaran langsung rute internasional sudah 75 persen. Tinggal sedikit lagi. Semua pihak, baik pemerintah maupunstakeholder terkait sudah bersinergi. Sisa trial and error. Permintaan berasal dari Jepang, untuk memenuhi kuota, pihaknya juga bekerja sama dengan pengusaha setempat. “Siapa yang sanggup, akan kami terima,” tambahnya.
Untuk mitra shipping, pihaknya telah bekerja sama dengan Wan Hai Lines LTD. Bahkan, perusahaan shipping internasional ini telah membuka kantor cabang mereka di Kota Tepian.
“Sebenarnya ia akui, ada permintaan lagi dari Jerman - 300 kontainer cangkang kelapa sawit lagi. Tetapi, belum kami terima. Tidak banyak kendala, hanya persoalan koordinasi saja. Sebetulnya permintaan ini mendesak untuk dieksekusi. Ya, kita lihat hasil percobaan ini dulu,” terangnya. Sebelumnya, timdirect call telah menjajaki Kalimantan Utara (Kaltara) hingga Sulawesi Tengah. Tidak lain, untuk menambah volume dan varian jenis komoditas.
Kendala direct call sebelumnya adalah mulai dari persoalan buyers terkait pola pembayaran yang menggunakan sistem letter of credit (LC). Dengan konsep LC ini, kita harus memercayakan proses pembayaran melalui perbankan asing. Namun, banyak pengusaha kita masih awam terhadap ekspor dan impor sehingga hal ini menjadi penghambat. Kemudian, yang kedua adalah permintaan buyers dari luar negeri tidak menginginkan material mentah, namun setengah jadi. Seperti, cangkang kelapa sawit yang diminta sebelumnya harus dalam keadaan kering.
Masalah lainnya, yakni pemerintah provinsi harus menyiapkan regulasi untuk membantu berjalannya direct call. Seperti sertifikasi – kami harus melakukannya di Surabaya dulu. Selain itu masalah pengaturan pajak ekspor, jika ada insentif, bagaimana perhitungannya. Kemudian masalah keterisian. Perlahan, sejak program ini direncanakan, satu per satu masalah diselesaikan sampai tahap percobaan ini. Jika, berhasil, tidak membutuhkan waktu yang lama lagi untuk menjalankan direct call di Kaltim.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan, Yasser Arafat berharap, dukungan pemerintah tak hanya sebatas wacana. Sebagai regulator, pemerintah daerah memiliki wewenang untuk melakukan intervensi yang dapat menguntungkan semua pihak. "Banyak persiapan yang harus dilakukan sebelum direct call terlaksana, dan persiapan itu menyangkut semua pihak. Karena yang disiapkan merata, dari sisi regulasi, sisi teknis, dan sisi volume komoditas. Tidak bisa salah satu saja yang siap, semuanya harus siap," jelasnya.
Dia mengatakan, regulasi yang jelas, mulai dari urusan karantina, bea cukai, hingga kepelabuhanan internasional, dapat memberikan kepastian hukum. Dengan begitu, para pengusaha eksportir ataupun pembeli dari luar negeri tidak akan merasa khawatir tersangkut urusan birokrasi pada masa mendatang.







