Berita Lintas
sawitbaik

Johan Susilo, Penemu Kompor Biomassa Rakyat



INFO SAWIT, SURABAYA  - Setelah berbulan-bulan melakukan riset dan uji coba, engineer jebolan Universitas Brawijaya, Johan Susilo berhasil menemukan kompor biomassa ramah lingkungan. Johan tidak bekerja sendiri. Dibantu anak-anak muda, dari bengkel kerja yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta Km 15, kini, kompor biomassa berteknologi gasifikasi tersebut siap diproduksi secara massal.

Dengan sasaran masyarakat perdesaan dan pelaku usaha kuliner ramah lingkungan, kompor biomassa made in Balikpapan tersebut telah memiliki hak paten dengan nama Kompor Rakyat. Kompor biomassa kreasi Johan tidak berbahan bakar minyak, namun berbahan bakar buah sawit, cangkang sawit, dan buah jarak.  “Biomassa sawit dipilih karena komoditas ini melimpah di Kalimantan,” kata Johan di bengkel kerjanya, belum lama ini, seperti ditulis JawaPos.com.

Dengan teknologi gasifikasi, bahan bakar dalam kompor biomassa nyaris tidak menimbulkan asap yang berarti. Berbahan besi dan aluminium, komponen kompor biomassa terdiri dari tabung luar, tabung dalam, penampung abu, ruang bahan bakar, dan pengatur nyala api. Proses pembakaran dalam kompor biomassa berlangsung dua kali. Pertama, pembakaran bahan bakar dan menghasilkan asap, kemudian dibakar kembali agar menjadi api yang jernih dan tanpa asap. 

“Dari tabung dalam yang terdapat lubang-lubang itulah proses gasifikasi terjadi. Berbeda dengan kompor sumbu, nyala api kompor gasifikasi bergerak dari atas ke bawah,” jelas Johan.

Secara kepraktisan, diakui, level kepraktisan kompor gasifikasi masih di bawah kompor gas. Namun, jika melihatnya dari sudut efisiensi, keamanan, dan nilai ekonomi, kompor gasifikasi berada di atas kompor sumbu dan kompor gas. Sebagai perbandingan, hasil uji coba penggunaan buah sawit kering sebanyak 3 ons dan penggunaan elpiji 15,9 kg selama 30 menit, bobot elpiji berkurang sebanyak 4 ons. Sementara bahan bakar biji sawit masih menyala lebih lama.

“Kompor biomassa sangat cocok untuk masyarakat pedesaan. Bahan bakunya melimpah, mudah didapat, dan murah. Yang lebih penting lagi, ramah lingkungan,” ujar Johan. (T2)