INFO SAWIT, JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan yang serius pada tahun 2015 lalu, bahkan Gubernur Alex Noerdin dijuluki sebagai “the haze governor”, telah mempercepat kerusakan fungsi lingkungan, yang berdampak negatif pada kesehatan masyarakat, produksi komoditas, ekonomi maupun kemampuan jasa lingkungan.
Kebakaran hutan dan lahan tersebut telah menjadi momentum perekat dan pemersatu para pemangku kepentingan di Sumatera Selatan untuk berbenah dan bekerjasama mencegah kebakaran serupa terulang kembali. Hal inilah yang menginspirasi Gubernur Alex Noerdin dan didukung oleh sektor swasta, termasuk Asia Pulp and Paper (APP), perusahaan kelapa sawit dan GAPKI Sumatera Selatan serta para pejabat pemerintahan di provinsi maupun kabupaten, untuk mendorong pembangunan berbasis pengelolaan lanskap berkelanjutan dan menjunjung pertumbuhan hijau.
Pembangunan pertumbuhan hijau dan penyusunan Green Growth Plan yang sedang berlangsung di Sumatera Selatan saat ini seyogyanya merupakan kesempatan untuk melakukan perbaikan dan mengidentikasi peluang untuk lebih mengoptimalkan penggunaan sumberdaya alam yang melimpah di provinsi ini, dengan tetap melindungi hutan, lahan gambut dan ekosistem yang sehat, yang sangat penting untuk mendukung keberlanjutan ekonomi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan yang hebat kembali terulang di bumi Sriwijaya.
Cakupan dan Keluaran Green Growth Plan
Potensi utama dalam pengembangan Green Growth plan di Sumetara Selatan dibagi dalam empat kelompok, dimana kelompok pertama meliputi sektor energi yang di dalamnya terdapat industri minyak, industri gas, energi listrik bersumber dari energi terbarukan dan tambang.
Selanjutnya kelompok kedua meliputi sektor manufaktur, terkait produksi dan proses industri, penggunaan teknologi hijau, serta pengelolaan limbah. Untuk kelompok ketiga berhubungan dengan sektor konektivitas, diantaranya meliputi sektor telekomunikasi, transportasi, infrastruktur dan konstruksi.
Dan kelompok keempat adalah kelompok sumber daya alam terbarukan, meliputi sektor kehutanan, pertanian atau perkebunan, perikanan, aktivitas alih guna lahan, dan aktivitas industri kelautan.
Lantaran pengembangan Green Growth Plan - merupakan upaya peningkatan ekonomi dan dipadukan dengan perlindungan lingkungan - ditengarai bakal memunculkan perbedaan pandangan di lapangan, utamanya terkait pengembangan sektor lahan, maka dibutuhkan keberlanjutan dalam pengelolaan landscape. Dimana perlu ada proses pengambilan keputusan yang cepat mengenai pengelolaan lahan ditengah-tengah situasi global yang terus berubah.
Tarik ulur antara pertumbuhan ekonomi, degradasi lingkungan dan keterlibatan sosial sangat penting untuk dipahami, diantisipasi dan ditangani secara hati-hati. Lantas dibutuhkan pendekatan integratif dari sebuah sistem holistik yang saling terkait, bentang lahan yang dikelola oleh individu dan entitas swasta dalam proses yang saling terkait di dalam rantai manfaat tata niaga dan jasa.
Proses negosiasi mutlak dibutuhkan dalam membangun pemahaman dan saling percaya antara semua pihak yang terlibat untuk menghadapi tarik-ulur (trade-off), melalui identifikasi konservasi yang memungkinkan dengan skenario pembangunan, yang menjunjung tinggi kesepakatan resiko dan bekerjasama dalam skim win-win solution.
Adapun target keluaran Green Growth Plan dibangun berdasarkan model skenario, dengan memasukkan inisiatif yang ada dan yang baru beserta rencana investasi menjadi satu kesatuan Green Growth Plan yang menyeluruh, termasuk target produksi dan lindung yang utama dalam mencapai pertumbuhan hijau pada tingkat provinsi.
Dokumen ini nantinya akan mencakup rekomendasi tentang kebijakan, rencana tata ruang dan perubahan kelembagaan yang diperlukan pada tingkat kabupaten dan provinsi, serta nasional jika diperlukan. Selain itu mekanisme pemberian insentif dan disinsentif untuk mengubah pola penggunaan lahan serta praktik penggunaan lahan yang ada.
Opsi intervensi pada sistem produksi dan kawasan lindung pada sub-landscape menjadi fokus utama, termasuk investasi yang diperlukan untuk menjalan intervensi tersebut.
Melakukan analisa kelayakan dan resiko dari intervensi serta investasi yang diusulkan. Identifikasi opsi-opsi pendanaan yang potensial serta usulan yang jelas mengenai peran dan tanggungjawab dalam pelaksanaan Green Growth Plan.
Hal yang sangat penting adalah membuat rencana dan langkah konkrit untuk mencapai Green Growth Scenario Sumatera Selatan, dan menjadikan Green Growth Plan dapat dilaksanakan dan tidak sekedar berhenti sebagai dokumen yang tersimpan rapi di dalam laci. Prinsipnya semua dilakukan dengan inklusif, integratif dan informed.
Model ini menunjukkan aspirasi para pihak adalah kunci utama dalam membangun skenario Green Growth. Data dan informasi merupakan dasar dari pemodelan skenario. Integrasi antar sektor terkait, konektivitas antar sub-landscape, interaksi antar fungsi produksi-lindung, trade-off antar berbagai target dan agenda. Serta kemitraan dan dukungan para pihak menjadi kunci utama keberhasilan program ini. (IDH-Sustaimable Trade Initiatif)









