Berita Lintas
sawitbaik

BRG Bawa Ilmuwan dan Perwakilan Lembaga Donor Ke Lapangan



BRG Bawa Ilmuwan dan Perwakilan Lembaga Donor Ke Lapangan

INFO SAWIT, PULANG PISAU - Badan Restorasi Gambut (BRG) ditargetkan untuk melakukan restorasi di 2,4 juta hektar lahan gambut yang terbagi menjadi program restorasi paska kebakaran 2015, restorasi kubah gambut berkanal, restorasi kubah gambut tidak berkanal (utuh) dan restorasi gambut dangkal berkanal.

Sementara itu dalam kurun waktu kurang dari setahun, BRG telah memfasilitasi restorasi lahan gambut di beberapa provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Melalui fasilitasi ini, BRG mempelajari upaya restorasi lahan gambut yang sedang dilakukan, semisal yang dilakukan secara tradisional oleh komunitas lokal.

BRG menilai saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mengoptimalkan semua pengetahuan, jejaring, dan berbagai sumber daya untuk mendorong dan melakukan kegiatan restorasi gambut. Untuk itu BRG mengadakan simposium lahan gambut internasional selama dua hari di Jakarta pada 15-16 Desember 2016 dan dilanjutkan kunjungan lapangan ke area restorasi gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah pada 19-20 Desember 2016.

Agenda kunjungan dimulai dari Desa Tanjung Taruna, Desa Garung, Desa Gohong dan Desa Buntoi. Keempatnya berada di Kabupaten Pulang Pisau yang merupakan salah satu kabupaten prioritas restorasi gambut. Di daerah tersebut dikembangkan upaya restorasi gambut yang mengintegrasikan aspek pembasahan kembali lahan gambut (rewetting), penanaman kembali (replanting) dan revitalisasi kehidupan (livelihood) masyarakat setempat.

Kepala BRG Nazir Foead menyatakan tujuan utama atas kunjungan lapangan tersebut adalah agar para peserta yang merupakan ilmuwan serta perwakilan negara donor dapat melihat inisiasi yang dilakukan masyarakat. Harapannya, setiap pihak dapat membantu pemerintah dalam mempercepat implementasi restorasi lahan gambut pada tahun 2017. “Sesuai arahan Bapak Presiden (Joko Widodo), kami harapkan di tahun depan total lahan yang terestorasi dapat mencapai 1 juta hektare,” jelasnya dalam rilis yang diterima Info SAWIT, belum lama ini.

Merevitalisasi Kehidupan Masyarakat dengan Ternak Sapi

Merestorasi lahan gambut tidak selalu masalah teknis pembasahan kembali lahan gambut. Memberdayakan masyarakat yang tinggal di atas ekosistem tersebut juga menjadi perhatian. Karena kedekatan geografisnya, masyarakat setempat sejatinya dapat menjadi penjaga ekosistem lahan gambut.

BRG menetapkan konsep revitalisasi kehidupan masyarakat sebagai salah satu fokus restorasi yang mereka jalankan. Yang terbaru, ialah percobaan peternakan sapi di atas lahan gambut di desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Jenis sapi yang dikembangkan adalah Sapi Bali. Pertimbangannya, jenis sapi ini merupakan jenis yang adaptif terhadap kondisi pakan serta iklim.

Sebagai proyek awal, BRG dengan bantuan Universitas Palangka Raya, Institut Pertanian Bogor dan UNDP menyiapkan 10 sapi jantan untuk digemukkan, 40 sapi betina untuk inseminasi buatan dan 2 sapi jantan untuk pembuahan alami. Harapannya masyarakat dapat merasakan hasilnya dalam 5 bulan dari penjualan sapi tersebut. Hasil penjualan akan dimanfaatkan untuk biaya operasional masyarakat peduli api (MPA), khususnya untuk perawatan peralatan sumur bor mereka. “Kami menyiapkan Rp 1,2 miliar menjalankan program ini selama 4 tahun,” jelas Robertho Imanuel Aden selaku Manajer Proyek Pengembangan Sapi di ekosistem gambut Desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Senin (19/12) lalu.

Sementara itu, Deputi bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan BRG Alue Dohong menyatakan,pengembangan sapi Bali juga untuk dapat memanfaatkan kotoran sapi untuk dijadikan kompos menumbuhkan rumput untuk dijadikan pakan ternak, seperti memanfaatkan rumput kumpai minyak yang tumbuh subur di kawasan gambut. Sebagai contoh, di Desa Tanjung Taruna terdapat 2 hektar kawasan yang menjadi tempat tumbuh rumput kumpai minyak. “Ke depannya kami ingin mengembangkan pakan rumput gajah, yang merupakan permintaan dari masyarakat,” tambah Alue.

Menurut dia, konsep pengembangan perekonomian di kawasan gambut perlu mendengarkan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, BRG secara berkala memfasilitasi dan mengumpulkan seluruh aspirasi masyarakat tersebut untuk kemudian diujicobakan aplikasinya sebagai pengembangan ekonomi gambut berbasis komunitas lokal. (T2)