Berita Lintas
sawitbaik

KEBERHASILAN PETANI KELAPA SAWIT, MENGHASILKAN MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN



KEBERHASILAN PETANI KELAPA SAWIT, MENGHASILKAN MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN

Kendati banyak persoalan yang melilit usaha perkebunan di Indonesia, namun keberadaan bisnis perkebunan masih menjadi primadona. Seperti perkebunan kelapa sawit yang masih mengejar ketertinggalan produksi, dibandingkan pesatnya peningkatan konsumsi pasar global setiap tahunnya.

Kendati rasa pesimisme sering menghantui keberadaan organisasi nirlaba Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), namun pengelolaan perkebunan kelapa sawit berlandaskan prinsip dan kriteria berkelanjutan kini sudah banyak terjadi. Tak hanya perusahaan perkebunan kelapa sawit semata, yang memang memiliki sumber daya mumpuni.

Kondisi terkini, berbagai petani dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand juga mampu menghasilkan produksi minyak sawit berkelanjutan. Kendati masih banyak memerlukan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak, namun petani kelapa sawit sudah banyak melakukan perubahan dalam melakukan praktek budidaya terbaik dan berkelanjutan.

Upaya mendorong kerjasama antar berbagai pemangku kepentingan, juga telah menjadi bagian dari upaya melanjutkan akan keberhasilan diskusi mengenai RSPO NEXT sejak tahun lalu. Dimana, forum RSPO menyerukan kepada semua pihak, supaya saling bekerjasama lebih baik, daripada bersaing menjadi yang paling berkelanjutan.

Forum Roundtable (RT) RSPO ke 14 tahun ini, lebih mendorong para pemangku kepentingan untuk saling berbagi pengetahuan dan berbagi keahlian dalam menjadikan minyak sawit berkelanjutan (CSPO) sebagai norma bagi produksi dan konsumsi minyak sawit global. Sebab itu, keberadaan produksi, juga harus didorong melalui penyerapan pasar CSPO bagi pasar global.

Menurut CEO RSPO, Darrel Webber, keberadaan minyak sawit berkelanjutan, juga harus mampu mengajak keterlibatan para pemangku kepentingan untuk memiliki komitmen akan transformasi pasar minyak sawit berkelanjutan. Pentingnya komitmen ini, sebagai upaya bersama untuk memastikan kebersamaan tanpa ada yang tertinggal di belakang, 

“Kemitraan inklusif menjadi sangat penting pada tahap ini, karena dapat merangkul berbagai konsep transformasi pasar melalui komitmen untuk tidak membiarkan siapapun tertinggal. Partisipasi para pemangku kepentingan harus ditingkatkan efektivitasnya guna memastikan skema sertifikasi dapat memberi manfaat terhadap keberlanjutan,” ungkap Darrel, lebih lanjut,”Hanya melalui kerjasama yang kuat dan aksi bersama, maka kita dapat mencapai visi tersebut”.

RSPO juga kembali . . .