Berita Lintas
sawitbaik

MENGGAGAS INOVASI UNTUK SAWIT SWADAYA



MENGGAGAS INOVASI UNTUK SAWIT SWADAYA

Perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya di Indonesia tercatat tumbuh sangat pesat. Namun perkebunan sawit swadaya itu masih dihadapkan pada segudang permasalahan. Inovasi diyakini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurai masalah tersebut.

Semenjak era 1980an perkebunan kelapa sawit tumbuh dengan pesat utamanya perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya. Kepastian harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit menjadi daya tarik masyarakat.

Jika tahun 1980 an, luas perkebunan kelapa sawit milik petani baru tercatat seluas 6000 ha, maka di tahun 2015 luas lahan kelapa sawit yang dikelola petani sudah mencapai mencapai 4,5 juta ha atau sekitar 40% dari total lahan kelapa sawit di Indonesia yang seluas 11,4 juta ha.

Dari luas total kebun sawit yang dikelola petani itu, sebanyak 2 juta ha dikelola oleh petani yang bermitra dengan perusahaan atau kerap dikenal dengan petani plasma, sementara sisanya seluas 2,5 juta ha dikelola oleh petani swadaya.

Begi perusahaan perkebunan, perluasan lahan menjadi sangat sulit saat ini, menyusul banyak terbitnya regulasi ketat yang mengatur pembukaan lahan baru. Justru, pertambahan areal perkebunan kelapa sawit itu diprediksi bakal berasal dari perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya.

Pertumbuhan areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya diperkirakan  akan meningkat menjadi 50% pada tahun 2020, menyalip pangsa minyak kelapa sawit perusahaan yang diproyeksikan akan berada di angka 45% pada tahun tersebut.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa petani swadaya memiliki peranan penting di dalam rantai pasok industri minyak kelapa sawit di Indonesia. Wajar bilamana petani swadaya memiliki posisi yang cukup strategis dalam upaya menerapkan solusi atas berbagai tantangan dalam industri  ini.

Terlebih produktivitas perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya tercatat masih cukup rendah, sekitar 11-12 ton Tandan Buah Segar (TBS) sawit per hektar per tahun, atau setara 2-2,5 ton CPO per hektar per tahun. Sebab itu agenda mengoptimalisasi perkebunan kelapa sawit milik petani swadaya menjadi sangat penting.

Upaya penyelesaian masalah di perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya juga bisa dibilang tidak hanya mengenai tingkat produktivitas yang rendah, cara pengelolaan manajemen perkebunan yang belum maksimal, termasuk masih adanya perkebunan kelapa sawit yang dikelola didalam kawasan hutan, termasuk lemahnya adminsitrasi pertanahan di tingkat petani perlu dicarikan solusi.

Inovasi diyakini bakal menjadi jalan terbaik untuk memperoleh solusi dari munculnya beragam masalah yang dihadapi petani kelapa sawit swadaya. Sebab itu kompetisi guna menemukan inovasi untuk mendukung berkembangnya pekebunan kelapa sawit swadaya pun diadakan.

Kompetisi ini dilakukan oleh Smallholders Advancing with Technology and Innovation (SAWIT), sebuah  bentuk  kemitraan  antara  Serikat  Petani  Kelapa  Sawit  (SPKS) dan  Indonesia  Business Council for Sustainable Development (IBCSD), dengan didukung oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Alasan dicarinya inovasi untuk petani swadaya ini, tutur Partnership Advisor (Smallholders Advancing with Technology and Innovation - SAWIT), Dharsono Hartono, sebagai upaya dalam mencari solusi dari kebutuhan petani swadaya yang diperkirakan cukup komplek.

Sebab itu dibutuhkan . . .