Berita Lintas
sawitbaik

JANJANG KOSONG SEBAGAI PENGGANTI PUPUK ANORGANIK PADA MASA TBM



JANJANG KOSONG SEBAGAI PENGGANTI PUPUK ANORGANIK PADA MASA TBM

Janjang kosong diyakini memiliki kandungan unsur-unsur yang berguna dalam membantu proses pertumbuhan pohon kelapa sawit, sehingga janjang kosong berpotensi sebagai pupuk organik. Berikut cara aplikasi janjang kosong di perkebunan kelapa sawit.

Sebelumnya perlu diperhatikan, janjang kosong yang akan diaplikasikan adalah janjang segar yang diangkut langsung dari Pabrik Kelapa Sawit dan harus segera diecer ke lapangan, janjangan kosong yang sudah lama menumpuk di pabrik tidak diaplikasikan kelapangan karena  kandungan pupuk, terutama pupuk kalium (K) yang ada dalam janjangan kosong akan hilang karena unsur kalium (K) sangat mudah terdekomposisi.

Dosis aplikasi janjang kosong per ha yang diaplikasikan untuk 25 ton/ha/tahun dengan jumlah populasi 143 pokok/ha, jadi aplikasi janjang kosong per pokok didapat adalah 25 ton/ha : 143 pokok/ha = 175 kg/pokok.

Kadar kandungan pupuk muriate of potash (MOP) yang ada dalam 175 kg janjang kosong/pokok adalah 175 kg janjang kosong/pokok (0,175 ton ) x 18,30 kg MOP/ton janjangan kosong = 3,2 kg muriate of potash  MOP/pokok, sedangkan dosis untuk TBM 3 adalah 1500 gr muriate of potash (MOP) ~ 1,5 kg muriate of potash (MOP)/pokok untuk aplikasi 1 semester.

Maka jika dibandingkan dengan dosis pada pupuk yang terkandung dalam janjang kosong adalah 3,2 kg muriate of potash (MOP)/pokok ~ 175 kg janjang kosong/pokok, jadi pemupukan anorganik yang dilakukan di perkebunan PT CSR adalah sebanyak 2 semester atau setara dengan 2 kali dalam  setahun sehingga kandungan dosis muriate of potash (MOP) pada janjang kosong sudah mencukupi yang 2 semester tersebut sehingga muriate of potash (MOP) anorganik tidak perlu lagi diaplikasikan.

Kelebihan Janjang Kosong

Janjang kosong memiliki kelebihan di lapangan diantaranya, janjangan kosong mempunyai kandungan dan sumber hara yang kaya dengan unsur hara kalium (K), menambah persentase bahan organik dalam tanah  melalui proses mineralisasi dari janjang kosong oleh penguraian microorganisme (microfauna). 

Lantas, mencegah erosi permukaan. . . .