INFO SAWIT, SENDAWAR – Akses jalan darat trans Kalimantan Timur, yang menghubungkan Kutai Barat (Kubar) ke kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), memang hampir sebagian besar sudah bisa dilalui kendaraan. Namun demikian, sejauh ini masih belum layak dilintasi.
Sebab dari sekitar 200 kilometer panjang jalan, pemerintah baru melakukan pengerasan sekitar 20 persen dari total panjang jalan dengan menggunakan campuran pasir dan batu. “Minimnya pengawasan membuat pengerjaan pengerasan akses darat dari Kubar ke Mahulu sangat lambat. Diindikasikan, ini tidak sesuai dengan arahan dari konsultan. Warga mengeluh karena disaat musim hujan, jalan itu jadi berlumpur pekat, nyaris tidak bisa dilewati mobil dan motor,” kata salah seorang warga Kutai Barat, Toni (43), yang melintas di ruas jalan itu, seperti dilansir Koran Kaltim, belum lama ini.
Menurut dia, titik kerusakan parah ruas jalan dari Kubar ke Mahulu, diantaranya, mulai simpang kampung Muara Mujan-Kelian Dalam, yang dahulu memang sudah diaspal, namun kini rusak parah lantaran seringkali dilalui truk pengangkut batubara.
Selain itu, juga ditemukan kerusakan di sepanjang jalan itu, hingga tiba di ibu kota Mahulu, di Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun.“Kerusakan terparah lainnya di badan jalan itu, tepat berada di kawasan perusahaan kebun sawit. Truk perusahaan sawit yang melintas di jalan itu tidak mau memperbaiki jalan yang rusak. Padahal, mobil-mobil perusahaan itu besar dan mengakibatkan kerusakan badan jalan,” tuding Toni.
Sementara menurut Alfin (32), warga Kampung Kayu Mas, Mahakam Ulu, Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman, Sarana dan Prasarana Wilayah Kalimantan Timur, mesti bertanggungjawab mengawasi proyek jalan yang dikerjakan oleh kontraktor. (T2)










