INFO SAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit saat ini ditengarai acap mendapatkan serangan dari pesaing minyak nabati lainnya dalam bentuk kampanye negatif. Hanya saja, apakah tudingan itu sepenuhnya benar?
Jika merujuk laporan survei yang dilakukan lembaga survei konsumen dunia, Nielsen, yang dirilis tahun 2014 lalu, terungkap bahwa ada peningkatan konsumen dengan bersedia membeli lebih mahal untuk produk yang ramah lingkungan. Misalnya, Asia Pasifik meningkat menjadi 65%, Amerika Latin meningkat 63%, Afika meningkat 63%, Amerika Utara meningkat 42%, dan Eropa 40%. Hasil riset ini berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 30 ribu orang secara online di 60 negara di dunia.
Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, dan Ekonom INDEF, Berly Martawardaya, mengatakan, telah terjadi pergesaran konsumen yang mendorong industri untuk menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan, atau secara kasar kondisi ini disebut hambatan konsumen .
Kondisi ini, kata Berly, mempengaruhi harga dan akses produk, lantaran naiknya kepedulian konsumen terhadap isu lingkungan dan bersedia untuk membayar lebih tinggi produk ramah lingkungan. “Ada indikasi awal bahwa masyarakat peduli terhadap lingkungan, seperti plastik berbayar,” kata Berly kepada Info SAWIT, belum lama ini di Jakarta.
Berly juga menyebutkan, dari survei yang dilakukan Nielsen, ini telah sesuai dengan teori lingkungan ekonomi, yakni, penghasil polusi memiliki tanggung jawab membayar (pollutan pay). Berly mencontohkan, penggunaan plastik berbayar yang beberapa akhir lalu diterapkan. Menggunakan plastik berati ada implikasi lingkungan yang harus dibayar konsumen, dan ada biaya tambahan.
Kendati demikian, Berly mengakui, konsumen di Indonesia masih butuh edukasi dari pemerintah, perusahaan dan masyarakat sipil. “Untuk produk kayu, pola sertifikasi lingkungan telah diterapkan, dan kelapa sawit sedang menuju kesana,” tandas Berly. (T2)







