Berita Lintas
sawitbaik

RHB: Selepas Kuartal I, Harga CPO Masih Stagnan



RHB: Selepas Kuartal I, Harga CPO Masih Stagnan

INFO SAWIT, JAKARTA - Analis RHB Securities Indonesia, Hariyanto Wijaya mengungkapkan, tren peningkatan harga CPO, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan rendahnya peningkatan upah minimum regional menjadi faktor utama terhadap pertumbuhan kinerja keuangan sektor perkebunan kelapa sawit. Diprediksi, pergerakan harga CPO setelah kuartal I-2017 akan cenderung stagnan.

 "Kami memperkirakan, kenaikan harga CPO berlangsung setidaknya hingga kuartal l-2017. Ini dipicu penurunan suplai global setelah sebagian besar perkebunan dilanda musim El Nino tahun lalu," tulis Hariyanto dalam risetnya yang dilansir Investor Daily.

Suplai global diprediksi kembali meningkat karena didukung cuaca yang lebih kondusif tahun ini. Peningkatan produksi tersebut tentu akan menaikkan suplai CPO pasar global, sehingga berdampak terhadap pergerakan harga. Berdasarkan hasil diskusi dengan asosiasi perkebunan kelapa sawit, volume produksi tandan buah segar perkebunan nasional tahun ini berpotensi pulih atau setara dengan realisasi tahun 2015. Peningkatan level stok ini bakal berimplikasi terhadap peningkatan produksi CPO nasional, mencapai sekitar 9,7% atau menjadi sekitar 35 juta ton tahun ini.

Hariyanto juga memperkirakan, fluktuasi mata uangbisa mencapai level Rp 13.700 per dolar AS tahun ini, atau bisa dibandingkan dengan rata-rata realisasi tahun lalu sekitar Rp 13.290. "Kami memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah ini membawa dampak positif bagi perseroan, menyusul sebagian besar produksi CPO diekspor dengan mengacu mata uang dolar AS." jelas dia.

Rendahnya peningkatan upah minimum pekerja juga berimbas positif bagi tingkat keuntungan emiten perkebunan. Menurut dia, perkebunan merupakan perusahaan dengan jumlah pekerja besar. Upah pekerja berkontribusi sekitar 35% dari total biaya operasional. Apabila tingkat kenaikan upah hanya mencapai 8,25%, peningkatan biaya operasional masih terkendali dengan baik. Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Securities untuk memberikan pandangan overweight saham sektor perkebunan. Pandangan tersebut juga mempertimbangkan perkiraan rata-rata harga jual CPO, sebesar US$ 581 per ton, atau bisa dibandingkan dengan harga pasar sekarang yang mencapai US$ 718 per ton.(T2)