Berita Lintas
sawitbaik

Biaya Konflik Sosial Perkebunan Sawit Bisa Capai US$ 2,5 Juta



Biaya Konflik Sosial Perkebunan Sawit Bisa Capai US$ 2,5 Juta

INFO SAWIT, JAKARTA - Dalam laporan yang dilakukan salah satu organisasi nirlaba berbasis riset, Daemeter, ditemukan bahwa konflik sosial di sektor kelapa sawit menimbulkan biaya yang besar, serta dampak luas bagi banyak pihak. Namun, seringkali biaya ini diabaikan, padahal juga dapat merugikan komunitas dan pemerintah daerah.

“Kami ingin memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dampak konflik sosial terhadap perusahaan kelapa sawit dengan cara menghitung seluruh biaya langsung dan tidak langsung, termasuk nilai kerugian aset berwujud maupun tak berwujud," ujar Aisyah Sileuw, Presiden Direktur Daemeter, salah seorang pelaksana penelitian di Jakarta, belum lama ini.

Dia menuturkan, hasil penelitian menyimpulkan bahwa biaya yang terakumulasi akibat konflik sosial sangat signifikan dan berpotensi menghambat produktivitas perusahaan. Hasil kajian beberapa studi kasus dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kerugian berwujud yang langsung dialami bisnis kelapa sawit akibat dari konflik sosial dapat mencapai US$ 2,5 juta, mewakili 51% hingga 88% dari biaya operasional perkebunan kelapa sawit, atau 102% hingga 177% dari biaya investasi per hektar per tahun.

Kerugian biaya terbesar disebabkan hilangnya pendapatan operasional perkebunan dan waktu kerja para karyawan yang dialokasikan untuk menanggulangi konflik sosial tersebut. Penelitian ini juga memperlihatkan kerugian biaya “tersembunyi” (intangible) yang mencapai US$ 9 juta, berupa kerugian tidak langsung akibat risiko konflik yang berulang atau konflik yang memburuk; kerugian akibat memburuknya reputasi bisnis, dan risiko kekerasan terhadap harta benda dan manusia. (T2)