Meningkatnya kebutuhan minyak nabati dunia, memang hanya bisa dipenuhi dengan pasokan minyak sawit sebagai minyak nabati andalan dunia. Berbagai kelebihan yang dimiliki minyak sawit, sangat berguna menopang berbagai industri hilir minyak nabati yang memilihnya sebagai bahan baku alternatif. Mampukah minyak sawit memenuhinya?
Sejak tahun 2006 lalu, ketika produksi minyak sawit mentah (CPO) global menjatuhkan keperkasaan produksi minyak kedelai dunia. Perlahan-lahan meluluh lantahkan kerajaan bisnis minyak kedelai yang sudah menguasai perdagangan minyak dunia lebih dari 100 tahun lamanya. Tergusurnya raja minyak nabati dunia ini, tentunya menyisakan perlawanan sengit yang hingga kini masih terus berlangsung.
Jika dahulu, posisi minyak kedelai selalu diunggulkan terhadap minyak nabati lainnya, berangsur-angsur mulai terbuka banyak fakta yang sesungguhnya. Klaim sebagai minyak nabati paling sehat, akhirnya terpatahkan dengan sendirinya, akibat proses produksi hidrogenasi yang ternyata akan menimbulkan banyak penyakit di kemudian hari.
Berbagai penelitian yang telah berhasil dilakukan, mengungkapkan fakta kesehatan yang sesungguhnya. Hingga akhirnya, Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada tahun 2006 lalu, menyatakan minyak sawit sebagai minyak yang sehat untuk dikonsumsi, lantaran tidak dihasilkan melalui proses produksi hidrogenasi.
Lebih lanjut, . . .










