INFO SAWIT, SAMARINDA – Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), andil sektor pertanian pada produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim 2010, sebesar 5,52%. Meski saat itu hasil tambang dan penggalian mendominasi sekitar 49,87%.
“Namun, pada struktur PDRB 2016, pertanian dalam arti luas memiliki andil sebanyak 8,29 persen. Kenaikan ini perlu diapresiasi,” kata Kepala Disbun Kaltim Ujang Rachmad, setelah seminar yang diadakan Organisasi Multi Pemangku Kebijakan untuk Standarisasi Kelapa Sawit Berkelanjutan atau RSPO, belum lama ini.
Dia melanjutkan, di dalam sektor pertanian ini subsektor perkebunan yang paling mentereng. Andilnya mencapai 52,89%. Sementara itu, berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku 2016 menyumbang sekitar 4,4%. Wilayah Kaltim dianggap pas untuk pengembangan lahan pertanian kelapa sawit. Sepanjang peruntukan lahannya memang untuk perkebunan. Namun, kata dia, dari lahan yang sudah dialokasikan ternyata yang termanfaatkan belum memenuhi 50%.
Lahan kelapa sawit yang sudah dialokasikan per kabupaten/kota untuk perkebunan dalam tata ruang sebesar 3,2 juta hektare. “Baru terpenuhi (dimanfaatkan) 1,1 juta hektare lahan kelapa sawit di Kaltim,” ungkapnya dikutip prokal.co. Atau sekitar 2,1 juta hektare masih menganggur.
Ujang mengatakan, belum termanfaatkannya lahan yang dialokasikan karena terkait masih minimnya investasi. Namun, lanjut dia, memang 3,2 juta hektare tidak berarti semua bisa ditanami kelapa sawit. Harus ada daerah high conservation value (HCV) yang dilindungi. Menurut dia, lahan itu tidak menjadi masalah, yang terpenting produksi sawit yang dihasilkan bukan luas lahannya. Data hasil produksi sawit juga dianggap sudah tumbuh dengan baik. Lahan sawit juga terus berkembang pada 2013 lahan sawit 944.826 hektare, pada 2014 menjadi 1.020.413 hektare. (T2)










